Gledeknews, Lombok Timur – Puluhan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Masyarakat Lombok Timur Menggugat mendatangi Kantor Kepolisian Resort (Polres) Lombok Timur pada Rabu (3/12). Kedatangan mereka untuk menyampaikan tuntutan terkait proyek pembangunan gedung pelayanan BPKB Polres Lombok Timur senilai Rp25,7 miliar.
Koordinator Umum aksi, Fahri Rahman, menegaskan bahwa pihaknya mendesak Kapolres Lotim dicopot dari jabatannya karena dinilai tidak menunjukkan sikap yang baik sebagai pelayan masyarakat.
“Pada aksi unjuk rasa hari ini, Kapolres sudah menunjukkan perilaku yang tidak baik terhadap kami. Seharusnya sebagai pelayan masyarakat, jangan membohongi kami,” tegas Fahri dalam orasinya.
Terkait pembangunan gedung BPKB tersebut, Fahri menyebut pihaknya menduga kuat adanya indikasi penyimpangan dan adanya dugaan penyalahgunaan proyek bernilai fantastis tersebut.
Massa aksi juga menilai pembangunan gedung tiga lantai itu sarat pelanggaran teknis dan administrasi, bahkan berpotensi membahayakan keselamatan pekerja maupun pengguna gedung di masa mendatang.
“Bangunan tiga lantai dengan dana fantastis itu terindikasi tidak memiliki fondasi. Ini sangat membahayakan,” teriak salah satu orator.
Setelah berorasi cukup lama, massa mendesak agar Kapolres menemui mereka secara langsung. Namun, hingga aksi berlangsung, Kapolres tak kunjung keluar menemui massa, sehingga memicu kekecewaan dan seruan pencopotan Kapolres.
“Sejak pertama kali dilantik, Kapolres Lotim tidak pernah menemui masyarakat maupun massa aksi. Kapolres pengecut!” teriak peserta aksi.
Massa menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan jilid pertama dan berjanji akan kembali dengan jumlah peserta yang lebih besar pada pekan depan.(GL)








