Gledeknews, Lombok Timur – Sorotan publik terkait praktik penjualan tiket penyeberangan di sekitar Pelabuhan Kayangan akhirnya mendapat tanggapan dari pihak PT ASDP Indonesia Ferry.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Kayangan, Erlisetya Wahyudi, menegaskan bahwa penjualan tiket penyeberangan resmi ASDP hanya dilakukan melalui kanal resmi perusahaan.
Menurutnya, saat ini pembelian tiket penyeberangan dilakukan secara daring melalui situs resmi trip.ferizy.com maupun melalui aplikasi Ferizy.
Ia juga menegaskan bahwa gerai atau pihak-pihak yang menjual tiket di sekitar jalur menuju pelabuhan tidak memiliki hubungan kerja sama dengan ASDP.
“Gerai atau pihak-pihak yang melakukan penjualan tiket di sekitar area pelabuhan tidak terafiliasi dan bukan merupakan mitra resmi ASDP,” ujarnya.
Karena itu, pihak ASDP mengimbau masyarakat yang hendak menggunakan jasa penyeberangan agar lebih berhati-hati saat membeli tiket, terutama jika ditawarkan oleh pihak di luar kanal resmi.
Pembelian melalui jalur resmi dinilai penting untuk menjamin kepastian layanan, transparansi harga, serta menghindari potensi kerugian bagi pengguna jasa.
Selain itu, calon penumpang juga diminta memastikan kesesuaian data tiket dengan identitas pengguna saat melakukan pemesanan.
“Kami mengimbau kepada seluruh pengguna jasa agar melakukan pembelian tiket melalui kanal resmi ASDP serta memastikan kesesuaian data tiket dengan identitas dari pengguna jasa,” tambahnya.
Sebelumnya, praktik penjualan tiket di sekitar Pelabuhan Kayangan menjadi sorotan setelah tiga orang calon penumpang pejalan kaki mengaku mengalami kejanggalan saat membeli tiket penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano pada Senin pagi (16/3).
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, pada papan informasi di gerai penjualan tersebut tercantum tarif penumpang pejalan kaki sebesar Rp25 ribu per orang. Namun saat melakukan pembayaran, petugas justru meminta Rp90 ribu untuk tiga orang penumpang.
Setelah pembayaran dilakukan, tiket yang dibeli tidak langsung terbit. Para penumpang bahkan harus menunggu hampir 30 menit, namun barcode tiket yang seharusnya muncul di sistem tidak kunjung muncul.
Petugas gerai kemudian menyampaikan bahwa sedang terjadi gangguan pada sistem tiket. Para penumpang pun diarahkan menuju petugas di pintu masuk pelabuhan untuk dilakukan pengecekan ulang.
Namun di lokasi tersebut proses kembali terhambat karena petugas pelabuhan harus melaporkan kendala tersebut ke call center sistem tiket penyeberangan.
Ironisnya, respons dari pihak call center dinilai cukup lambat. Para calon penumpang kembali harus menunggu lebih dari 30 menit tanpa kepastian apakah tiket yang telah dibayar dapat digunakan.(GL)








