GledekNews-Lotim. Pihak Yayasan Server Indonesia (YSI) mendatangi Kantor Dinas Sosial Lombok Timur, Selasa (17|11). Guna menyampaikan keberatan atas pernyataan Kepala Dinas Sosial Lotim, H.Ahmad di media massa.
Terkait dengan masalah daging sapi yang tidak layak komsumsi bukan program Bantuan Pangan Sosial (BPS) atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Melainkan merupakan bantuan dari Yayasan Server, sehingga inilah yang tidak diterima pihak Yayasan Server Indonesia atas pernyataan Kadis untuk diminta dilakukan klarifikasi.
Kedatangan Yayasan Server itu dikomandoi Ketua Kantor Pusat YSI, Endang, Ketua Cabang YSI NTB, L. Ahmad Akhsan dan Wakil Donatur, Sahih. Dengan langsung diterima Kepala Dinas Sosial Lotim, H.Ahmad di ruang kerjanya.
Kepala wartawan Ketua Cabang YSI NTB, L.Ahmad Akhsan mengatakan pihaknya merasa keberatan dengan pernyataan Kadis Sosial tersebut soal daging sapi yang beredar tak layak komsumsi menganggap bantuan YSI.
Padahal itu tidak benar karena dari kemasan bantuan dan jumlahnya tidak seperti itu. ” Kami merasa keberatan dengan pernyataan Kadis Sosial itu, karena itu bukan daging bantuan kami, makanya kami datang untuk mengklarifikasinya,” tegasnya.
Ia menjelaskan untuk di NTB sudah lima tahun berjalan bantuan ini kepada masyarakat dengan jumlah sekitar 70 ribu KK, sedangkan di Lotim sebanyak 17 KK yang mendapatkan daging dari program YSI.
Dengan kualitas daging qurbannya segar-seger, dimana untuk daging sapi kami berikan kepada masyarakat seberat 2,5 kilogram,sedangkan daging domba seberat 3-4 Kg.
Bahkan daging yang kami Salurkan memiliki sertifikat dan bukan jumlahnya 300 gram sebagaimana pemberitaan yang ada. “Harusnya Kadis Sosial Lotim kroscek dulu baru keluarkan pernyataan, tapi apa yang terjadi Kadis asal ngomong saja,” tukasnya.
Kepala Dinas Sosial Lotim, H.Ahmad kepada pengurus Yayasan Server Indonesia meminta maaf atas kesalahan terkait masalah bantuan daging yang dianggap berasal dari Yayasan Server, akan tapi setelah dikroscek memang betul daging sapi yang beredar tidak layak komsumsi itu adalah bantuan BPNT.
“Saya minta maaf kepada Yayasan Server Indonesia,” katanya.
Ahmad menambahkan dalam program BPS|BPNT tidak ada daging sapi, tapi melainkan yang ada daging ayam. Namun setelah dilakukan kroscek dan mengumpulkan para pendamping dan agent maupun supplier memang betul kalau daging sapi yang beredar dan sempat viral merupakan program BSP|BPNT.
“Kita akui kalau itu program BPS atau BPNT dan suppliernya sudah menggantinya dengan daging yang bagus,” tegasnya. (Jal).








