Gledeknews, Lombok Timur – Warga Jurit, Kecamatan Peringgasela, dibuat heboh dengan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada anak-anak sekolah, Senin (2/3). Menu yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu dinilai jauh dari standar kelayakan, baik dari sisi gizi maupun kesesuaian harga.
Salah seorang warga Jurit Baru berinisial S mengaku terkejut saat melihat bekal MBG yang dibawa pulang anaknya. Dalam kotak mika, menu tersebut hanya berisi tiga item: sate parutan kelapa, satu buah salak, dan susu kemasan.
“Ini kok menunya kayak gini. Coba lihat, cuma sate parutan kelapa, sebiji salak, sama susu,” ungkapnya, Selasa (3/3).
Ia menilai menu tersebut tidak mencerminkan konsep gizi seimbang sebagaimana tujuan program MBG. Bahkan, menurutnya, sajian itu sangat tidak sepadan jika dibandingkan dengan anggaran yang digelontorkan pemerintah.
“Ini gizi seimbang apa yang kita dapatkan? Menu kayak gini kalau di gawe (pesta) saja sering kita dapat,” keluhnya.
Kekecewaan serupa juga ramai disuarakan warga lainnya di kolom komentar media sosial yang mengunggah foto menu MBG tersebut. Mayoritas komentar mempertanyakan kualitas, porsi, hingga transparansi pengelolaan anggaran program.
Menanggapi polemik itu, Kepala SPPG Jurit Baru, Halid Gazali, membenarkan bahwa menu tersebut berasal dari pihaknya. Ia menyebut ini ada terjadi miskomunikasi dengan pihak pemasok sate.
“Kita pesan satenya itu seharusnya paket empat tusuk untuk porsi kecil, dan lima tusuk untuk porsi besar sesuai hitungan akuntan dan ahli gizi. Tapi yang datang hanya dua tusuk,” jelasnya.
Terkait sorotan harga, Halid menyebut pihaknya membeli sate tersebut seharga Rp3.500 per porsi dua tusuk, meskipun harga di tingkat pelaku UMKM berkisar Rp1.000 per tusuk.
“Harga normal sebenarnya Rp2.000 per tusuk, tapi dari supplier kita dapat Rp3.500 untuk dua tusuk,” katanya.
Ia juga mengklaim bahwa tidak sedikit pihak yang memanfaatkan program MBG untuk menaikkan harga. Namun di sisi lain, warga mempertanyakan bagaimana mungkin pengelola SPPG dapat dengan mudah “diakali” oleh pemasok dalam program yang menyasar kebutuhan gizi anak-anak.(**)








