GledekNews.com
Kamis, September 3, 2026
  • Login
  • Register
  • HOME
    • GLEDEKTV
    • GLEDEKNEWS
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • HIBURAN
  • WISATA
  • POLITIK
  • GLEDEK NTB
No Result
View All Result
  • HOME
    • GLEDEKTV
    • GLEDEKNEWS
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • HIBURAN
  • WISATA
  • POLITIK
  • GLEDEK NTB
No Result
View All Result
GledekNews.com
No Result
View All Result
Home EKONOMI

Makan Gratis, Berpikir Mahal: Paradoks Gizi dalam Proyek Indonesia Emas

gledek by gledek
23/02/2026
in EKONOMI, KESEHATAN, NASIONAL, OPINI, PENDIDIKAN
0
Makan Gratis, Berpikir Mahal: Paradoks Gizi dalam Proyek Indonesia Emas
1000
SHARES
1000
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Penulis: Zainul Muttaqin (Ketua Dewan Pembina Rinjani Faudation)

ADVERTISEMENT

Gledeknews, OPINI – Kebijakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipromosikan sebagai tonggak penting menuju Indonesia Emas 2045. Program ini ditampil sebagai janji eskatologis negara sebuah visi keselamatan sosial yang diyakini mampu memutus rantai kemiskinan struktural melalui intervensi nutrisi.

RELATED POSTS

Kerajinan Anyaman Bambu Desa Loyok Targetkan Kembali Mendunia

PT Selaparang Finansial Setorkan deviden ke PAD Rp2,3 Miliar, Tetapi Kredit Macet Tinggi

Di permukaannya, kebijakan ini tampak luhur memperkuat modal manusia sejak dini. Namun, seperti banyak proyek besar negara, kemuliaan tujuan kerap berbenturan dengan realitas implementasi.

Program MBG lahir dari ambisi teknokratis yang dibalut narasi populis. Negara hadir sebagai penyedia makanan, seolah menegaskan diri sebagai “pemberi kehidupan”. Dalam narasi ini, manusia direduksi menjadi objek biologis yang sekadar kumpulan kalori, protein, dan mikronutrien.

Sebuah konsepsi tentang Homo Digestivus: manusia yang ditenangkan oleh karbohidrat, namun diabaikan kegelisahan eksistensial dan kapasitas kritisnya. Pertanyaannya kemudian, badai ketidakpastian seperti apa yang sesungguhnya sedang kita hadapi?.

Pertama, dari sisi makroekonomi, program MBG memantik perdebatan serius soal keberlanjutan fiskal. Alokasi anggaran yang mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah berpotensi menekan ruang fiskal negara.

Kekhawatiran akan crowding-out effect menjadi relevan: pendanaan masif untuk MBG berisiko menggerus anggaran sektor krusial lain, seperti infrastruktur pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik. Ketika kebijakan populistik diprioritaskan, pembangunan jangka panjang bisa kehilangan keseimbangan.

Kedua, munculnya kasus keracunan massal di sejumlah daerah pada fase awal implementasi mengindikasikan kegagalan sistemik dalam keamanan pangan. Ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan problem tata kelola rantai pasok.

Ketidaksiapan dapur komunitas (SPPG), lemahnya pengawasan higienitas, serta absennya sistem audit kualitas yang independen menunjukkan jurang antara kebijakan terpusat dan kapasitas eksekusi di tingkat lokal. Program yang dimaksudkan untuk menyehatkan justru berpotensi menjadi ancaman kesehatan publik.

Ketiga, komposisi menu MBG membuka paradoks kedaulatan pangan. Ketergantungan pada komoditas impor—seperti gandum dan susu—menandakan keterputusan antara program nasional dan ekosistem agrikultur domestik. Dalam kondisi disrupsi rantai pasok global, MBG berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi.

Kritik semakin tajam ketika kearifan pangan lokal yang setara secara nutrisi namun lebih resilien secara ekonomi justru terpinggirkan. Janji transformasi dari “program makan” menjadi “program pemberdayaan petani” hingga kini lebih banyak berhenti pada retorika.

Keempat, tata kelola implementasi yang melibatkan birokrasi berlapis dan nuansa komando menciptakan ruang bagi perburuan rente. Desentralisasi pengadaan tanpa transparansi digital yang kuat membuka peluang manipulasi nilai gizi dan porsi makanan. Asimetri informasi antara penyedia dan pengawas memungkinkan degradasi kualitas demi keuntungan vendor.

Di sisi lain, keterlibatan aparat non-sipil dalam pengawasan operasional memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan profesional dan batas peran militer dalam ruang publik sipil.

Kelima, tantangan spasial di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) memperlihatkan ketimpangan struktural yang belum terjawab. Biaya logistik yang tinggi di luar Jawa membuat harga per porsi melonjak. Untuk menyesuaikan plafon anggaran, kualitas bahan baku kerap dikompromikan. Ironisnya, wilayah yang paling membutuhkan intervensi gizi justru berisiko menerima layanan dengan kualitas terendah.

Pada akhirnya, MBG berada di persimpangan antara harapan dan petaka yang disamarkan oleh niat baik. Jika nutrisi hanya dipahami sebagai sarana mencetak tubuh-tubuh sehat namun miskin daya kritis, maka keberhasilan program ini justru menjadi ironi. Indonesia Emas yang dibayangkan bisa saja berkilau di permukaan, tetapi rapuh di dalam—tanpa kemandirian dan kesadaran kolektif.

Program Makan Bergizi Gratis membutuhkan reorientasi kebijakan yang serius: akuntabilitas radikal, penguatan rantai pasok lokal yang inklusif, serta standarisasi kesehatan yang ketat dan independen.

Tanpa itu, MBG berisiko menjadi inefisiensi anggaran berskala besar—atau lebih buruk, komoditas politik yang mengorbankan masa depan anak bangsa. Negara semestinya tidak sekadar memberi makan, tetapi juga memastikan bahwa kebijakan gizi dibangun di atas bukti, etika, dan keberlanjutan.(***)

Share400SendShareTweet250Share100
ADVERTISEMENT
gledek

gledek

Related Posts

Kerajinan Anyaman Bambu Desa Loyok Targetkan Kembali Mendunia

Kerajinan Anyaman Bambu Desa Loyok Targetkan Kembali Mendunia

by gledek
30/08/2026
0

Gledeknews, Lombok Timur - Pemuda pemerhati budaya yang tergabung dalam sejumlah organisasi pemuda Desa Loyok, mulai dari Karang Taruna, Bajang...

PT Selaparang Finansial Setorkan deviden ke PAD Rp2,3 Miliar, Tetapi Kredit Macet Tinggi

PT Selaparang Finansial Setorkan deviden ke PAD Rp2,3 Miliar, Tetapi Kredit Macet Tinggi

by gledek
29/08/2026
0

Gledeknews, Lombok Timur - Pihak PT Selaparang Finansial menyetorkan deviden ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lombok Timur tahun ini...

Lotim Dapat Jatah 500 Orang Layanan Kesehatan Mata Gratis

Lotim Dapat Jatah 500 Orang Layanan Kesehatan Mata Gratis

by gledek
27/08/2026
0

Gledeknews, Lombok Timur - Dari 800 kuota pelayanan yang tersedia untuk wilayah NTB, sebanyak 500 kuota dialokasikan khusus bagi masyarakat...

Survei Harga Dipertanyakan, Mitra SPPG Soroti Ketidaksesuaian di Pasar

Survei Harga Dipertanyakan, Mitra SPPG Soroti Ketidaksesuaian di Pasar

by gledek
26/08/2026
0

Gledeknews, Lombok Timur – Sejumlah mitra suplayer bahan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Masbagik, Lombok Timur,...

Pemkab Lotim Masih Tergantung Pada Pebisnis Wisata Berinvestasi

Pemkab Lotim Masih Tergantung Pada Pebisnis Wisata Berinvestasi

by gledek
25/08/2026
0

Gledeknews, Lombok Timur - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur masih memiliki ketergantungan dari para pebisnis wisata atau investor yang ingin...

RECOMMENDED

Diduga ‘Main Mata’ Soal Izin Kandang Ayam, AMM Desak Bupati Loteng Bertindak

Diduga ‘Main Mata’ Soal Izin Kandang Ayam, AMM Desak Bupati Loteng Bertindak

03/09/2026
Damkarnat Lotim Bantah Lamban Tangani Kebakaran Pasar Keruak, Ini Penjelasannya

Damkarnat Lotim Bantah Lamban Tangani Kebakaran Pasar Keruak, Ini Penjelasannya

02/09/2026
  • 52.2M Fans
  • 136 Followers
  • 26.7k Followers
  • 206k Subscribers
  • 630 Followers
  • 24k Followers

MOST VIEWED

  • Pemuda dan Mahasiswa Lotim Serukan Masyarakat Jangan Menabung di BNI 

    Pemuda dan Mahasiswa Lotim Serukan Masyarakat Jangan Menabung di BNI 

    1000 shares
    Share 400 Tweet 250
  • Putra Sasak Jabat Kapolda NTB 

    1000 shares
    Share 400 Tweet 250
  • Dibentak Para Kades, Dua Komisioner Bawaslu Lotim Keringat Dingin ‎

    1000 shares
    Share 400 Tweet 250
  • Pelaku UMKM Internet RT/RW Tidak Bisa Dipidana Karena Ranah Perdata

    1000 shares
    Share 400 Tweet 250
  • Dianggap Kurang Elok Pj Bupati Lotim Tugaskan Alumni IPDN Jadi Kepala Pasar‎

    1000 shares
    Share 400 Tweet 250
GledekNews.com




Jl. Mawar No. 7

Komplek Rumah Sehat, Lingkungan Kampung Baru

Kelurahan Majidi, Kecamatan Selong (83619)

Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia

+62 81918199111





September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu    

Kategori

Advetorial BERITA Bima DESA Editorial EKONOMI GLEDEK NTB HIBURAN HUKUM Jakarta KESEHATAN Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Lombok Utara Mataram Musik NASIONAL NEWS OLAHRAGA OPINI PEMERINTAHAN PEMILU PEMUDA PENDIDIKAN PERTANIAN PILKADA POLITIK SOSOK SUMBAWA WISATA
Facebook Twitter RSS

© 2021 GledekNews – TIM IT Gledeknews gledeknews.

  • About
  • Contact
  • GledekTV
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Sitemap
No Result
View All Result
  • HOME
    • GLEDEKTV
    • GLEDEKNEWS
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • HIBURAN
  • WISATA
  • POLITIK
  • GLEDEK NTB

© 2021 GledekNews - TIM IT Gledeknews gledeknews.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In