Gledeknews, Lombok Timur – Event Alunan Budaya Desa Pringgasela kembali digelar pada tahun 2026, menandai satu dekade pelaksanaannya. Festival yang telah tiga tahun berturut-turut masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) ini akan berlangsung pada 19 hingga 25 Juli 2026 dengan mengusung tema “Srimananti”.
Tema tersebut merepresentasikan harapan, peran perempuan, serta identitas tenun khas Pringgasela yang telah menjadi warisan budaya turun-temurun. Beragam pertunjukan budaya berskala besar pun disiapkan untuk memeriahkan perayaan satu dekade tersebut.
Ketua Lembaga Majelis Seni dan Budaya Pringgasela, Fery Irawan, mengatakan Karnaval Tenun kembali menjadi sajian utama pada malam puncak festival. Karnaval ini menjadi daya tarik tersendiri karena merupakan satu-satunya karnaval berbasis kain tenun di Indonesia.
“Di malam puncak nanti akan ada Karnaval Tenun yang dilanjutkan dengan pertunjukan kolosal. Tahun ini menjadi momentum satu dekade Alunan Budaya, sehingga tema besarnya adalah perempuan dan tenun,” ujarnya, Selasa (14/7).
Fery menjelaskan, Srimananti merupakan motif tenun khas Pringgasela yang dipilih sebagai tema utama karena melambangkan harapan, doa, serta peran penting perempuan dalam tradisi menenun. Di masyarakat setempat, perempuan sejak dahulu identik dengan aktivitas menenun sebagai bagian dari identitas budaya.
“Motif Srimananti memiliki ciri khas yang langsung dikenali sebagai tenun Pringgasela. Walaupun ada kemiripan dengan motif daerah lain, masyarakat dapat langsung mengetahui asalnya,” jelasnya.
Pada pertunjukan kolosal, pengunjung akan disuguhkan visualisasi Putri Srimananti yang dikemas lebih megah dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, panitia juga merencanakan konser hiburan yang akan digelar beberapa pekan setelah malam puncak festival.
Menariknya, tema perempuan tidak hanya diangkat dalam konsep acara, tetapi juga diwujudkan dalam struktur kepanitiaan. Untuk pertama kalinya, posisi ketua panitia dipercayakan kepada perempuan.
Ketua Panitia Alunan Budaya Desa Pringgasela, Vidya Akmlaunnisa, mengatakan tema Srimananti bertujuan mengenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tradisi tenun tetap lestari.
“Kami ingin generasi sekarang memahami identitas tenun Pringgasela sehingga mereka dapat melanjutkan warisan para pendahulu,” katanya.
Ia menambahkan, Desa Pringgasela memiliki ribuan penenun yang selama ini menjadi tulang punggung pelestarian budaya. Pada tahun-tahun sebelumnya, festival ini bahkan mampu menghadirkan hingga seribu penenun dalam satu pertunjukan.
Namun tahun ini, panitia memilih pendekatan simbolis dengan menampilkan sembilan tahapan proses menenun melalui sembilan prosesi yang diperagakan oleh para ibu penenun.
Proses tersebut menggambarkan perjalanan pembuatan kain tenun, mulai dari pengolahan benang, pewarnaan menggunakan bahan alami, hingga penyatuan benang menjadi kain.
Penggunaan pewarna alami dari tanah, kayu, daun, dan berbagai bahan alam lainnya menjadi ciri khas utama tenun Pringgasela, sekaligus pembeda dengan produk tenun dari daerah lain yang sebagian besar menggunakan pewarna sintetis.
“Keaslian warna alami inilah yang menjadi salah satu identitas sekaligus kekuatan tenun Pringgasela,” pungkasnya.(*)








