Gledeknews, Lombok Timur – Hampir satu bulan pasca disuspensi, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Danger 2 di Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, belum juga kembali beroperasi. Kondisi ini memicu kebingungan di kalangan sekolah mitra, terutama akibat desakan dari para orang tua siswa.
Situasi tersebut terungkap dalam pertemuan antara pihak yayasan dan sejumlah pihak sekolah mewakili penerima manfaat. Dalam forum itu, pihak sekolah mengaku berada dalam tekanan karena terus-menerus mendapat pertanyaan dari wali murid terkait belum berjalannya program MBG.
“Kami pusing menghadapi pertanyaan orang tua. Anak-anak mungkin masih bisa menunggu, tapi orang tuanya terus bertanya kapan program ini kembali berjalan,” ungkap salah satu Person In Charge (PIC) TK, Ibu Mis, Rahu (29/4).
Ia menegaskan, jika tidak ada kepastian waktu operasional, pihak sekolah mempertimbangkan untuk beralih ke SPPG atau dapur MBG lain demi menjawab kebutuhan siswa dan menjaga kepercayaan masyarakat.
“Kami butuh kepastian. Kalau memang belum ada kejelasan, kami minta diberikan surat agar bisa pindah ke dapur lain,” tegasnya.
Hal senada disampaikan perwakilan MI Jontak, Agus. Ia mengaku selama ini komunikasi dengan dapur MBG Danger 2 berjalan baik, namun ketidakpastian operasional membuat sekolah berada pada posisi sulit.
“Kami sudah beberapa kali berkoordinasi, dapurnya komunikatif dan kami nyaman. Tapi sekarang orang tua terus bertanya, apalagi ini mendekati penerimaan siswa baru,” ujarnya.
Selain meminta kepastian operasional, pihak sekolah juga mengusulkan adanya penyesuaian menu sesuai selera lokal serta membuka ruang bagi sekolah untuk memberikan masukan terhadap variasi menu.
Sorotan lain, pihak sekolah keluhkan belum mulai didistribusikan menu MBG ke sekolah oleh dapur. Berdampak kepada penerima siswa, karena para wali murid mau menyekolahkan anaknya yang sekolah sudah menerima program MBG.
“Banyak orang tua mau sekolahkan anaknya di sekolah yang sudah dapat program MBG, kalau gak ini gak mau,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Pembina yayasan dan mewakili SPPG, Lalu Istina Apandi, menjelaskan bahwa seluruh proses penyusunan menu telah melalui tahapan, mulai dari perencanaan oleh SPPG, verifikasi yayasan, hingga koordinasi dengan penyedia bahan baku.
“Kalau ada bahan yang tidak tersedia, kami lakukan penyesuaian. Semua sudah melalui proses,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai perbaikan, termasuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan nilai investasi mencapai Rp50 juta, serta penambahan fasilitas dapur.
“Semua sudah kami lengkapi. Bahkan sejak awal kami sudah melaporkan dan menyampaikan kondisi ini, termasuk melalui media ke BGN,” tambahnya.
Terkait operasional, Mik Is menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan dapur MBG Danger 2 dapat kembali beroperasi dalam waktu dekat.
“Insyaallah minggu ini akan dibuka kembali,” ujarnya.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan jika ada sekolah yang memilih beralih ke dapur lain, namun berharap seluruh pihak dapat bersabar karena proses ini merupakan bagian dari evaluasi dan perbaikan sistem.
“Kami mohon kesabaran. Ini bukan kesengajaan, tapi bagian dari tahapan perbaikan. Kami juga menyampaikan permohonan maaf dan berharap ke depan tidak ada lagi suspend,” pungkasnya.(GL)








