Gledeknews, Mataram – Mantan Bupati Lombok Timur dua periode, Ali Bin Dahlan, menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ali Bin Dahlan atau yang krab dipanggil Ali BD menilai istilah “gratis” dalam program tersebut kurang tepat, karena anggaran yang digunakan bersumber dari uang rakyat. Program tersebut lebih tepat disebut sebagai program makan siang bagi siswa.
“Saya tidak mau gunakan kata gratis. Ini sebenarnya kewajiban negara kepada rakyat. Tapi jangan disebut gratis, karena sumbernya dari uang rakyat,” ujar Ali BD saat berikan tanggapan terkait program MBG, Kamis (12/3).
Menurutnya, secara teknis pelaksanaan program MBG masih memiliki banyak kekeliruan, terutama kerena dinilai terlalu diproyekkan dalam skala besar. Penyediaan makanan bagi siswa seharusnya dapat dikelola langsung oleh masing-masing sekolah.
“Kalau di negara lain tidak diproyekkan seperti itu. Berikan saja tugas kepada sekolah. Kalau tidak ada piring, belikan piring. Tapi jangan diproyekkan,” katanya.
Ali BD berpendapat bahwa mekanisme proyek justru berpotensi membuat biaya program menjadi lebih besar. Dinilai proyek lebih tepat diterapkan pada pembangunan infrastruktur, bukan untuk pemenuhan kebutuhan makan siswa.
“Kalau memproyekkan jalan itu wajar, tapi kalau untuk isi perut jangan diproyekkan. Serahkan saja kepada kantin sekolah, itu lebih sederhana,” jelasnya.
Selain itu, ia juga singgung kekhawatiran terhadap besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program terabut. Pemerintah perlu berhati-hati agar pelaksanaan program tidak membebani keuangan negara.
“Kalau jumlahnya sampai ratusan triliun, tentu harus dihitung dengan baik. Jangan sampai negara harus menambah utang hanya untuk menjalankan program ini,” ujarnya.
Ali BD juga menyoroti kualitas makanan yang disalurkan dalam program tersebut. Ia mengatakan, jika pelaksanaannya tidak diawasi dengan baik, kualitas makanan bisa menurun bahkan berpotensi tidak layak konsumsi.
Ia menambahkan, kualitas makanan harus benar-benar diperhatikan agar tujuan utama program, yakni meningkatkan gizi anak-anak sekolah, dapat tercapai.
“Semua makanan tentu ada gizinya, tapi kualitasnya yang harus dijaga. Jangan sampai makanan yang diberikan justru tidak layak atau bahkan rusak,” pungkasnya.(GL)








