Gledeknews, Lombok Timur – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karya Nusantara, Desa Dames Damai, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, sempat menjadi perbincangan publik setelah viral di media sosial (Medsos).
Dimana menu yang disajikan tersebut antara lain, berisi nasi putih, kedelai rebus, buah naga, cumi yang dipotong kecil, serta kuah sayur.
Menanggapi viralnya unggahan tersebut, Ketua SPPG Karya Nusantara, M. Sopiyan Iskandar, tidak membantah bahwa menu yang beredar di media sosial merupakan menu yang memang didistribusikan oleh dapur SPPG Karya Nusantara.
“Menu kami memang seperti itu. Isinya nasi putih, cumi pedas manis, tumis sawi putih, kedelai rebus, dan buah naga,” jelas Sopiyan saat dikonfirmasi langsung pada Jumat (16/1).
Ia menegaskan, menu tersebut sudah dua kali disajikan kepada penerima manfaat dan selama ini tidak menimbulkan persoalan. Bahkan, respon dari pihak sekolah sebelumnya terbilang baik, sehingga pihaknya sempat bingung dengan polemik yang muncul setelah menu tersebut viral.
Meski demikian, Sopiyan mengakui adanya kekurangan dalam proses pengepakan, terutama terkait jumlah potongan cumi yang dinilai kurang. Hal itu disebabkan oleh proses pengepakan yang dilakukan dalam jumlah besar.
“Memang ada sedikit masalah dari jumlah potongan cumi yang sedikit. Itu menjadi catatan kami,” katanya.
Atas kejadian tersebut, pihak SPPG langsung melakukan konfirmasi dan berkoordinasi dengan pihak sekolah. Dari hasil komunikasi tersebut, tidak ditemukan keberatan dari pihak sekolah, baik terkait rasa maupun menu secara keseluruhan.
“Kami sudah tanyakan langsung ke guru-guru di sekolah. Tidak ada masalah, baik dari rasa maupun menunya,” terangnya.
Ia menambahkan, viralnya menu MBG ini menjadi bahan evaluasi sekaligus motivasi bagi pihaknya untuk terus melakukan perbaikan. Ia menegaskan bahwa SPPG Karya Nusantara terbuka terhadap berbagai masukan, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
“Kami sering turun ke lapangan dan menanyakan langsung ke sekolah, termasuk mendengarkan masukan dari guru dan siswa,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya mulai menyesuaikan cita rasa menu dengan selera penerima manfaat. Jika sebelumnya menu cenderung manis, kini secara bertahap ditambahkan rasa pedas agar lebih diminati dan tidak banyak makanan yang terbuang.
“Daripada banyak yang tidak dimakan dan terbuang sia-sia, kami menyesuaikan rasa dengan lidah penerima manfaat,” tandasnya.(GL)








