Gledeknews, Lombok Timur – Dugaan adanya oknum tertentu yang memainkan dalam penyusunan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah dapur Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Timur mencuat ke publik.
Salah satu menu MBG yang didistribusikan oleh SPPG Yayasan Ribath Al-UMM (Yarim) Jerowaru menjadi sorotan setelah dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang diterima penerima manfaat.
Sorotan tersebut bermula dari viralnya unggahan di media sosial yang menampilkan foto menu MBG yang dibagikan pada Senin (22/12). Sejumlah wali murid dan masyarakat mempertanyakan kuantitas serta nilai gizi menu yang diterima. Unggahan tersebut juga disertai tangkapan layar klarifikasi dari seseorang bernama Tiara yang disebut sebagai akuntan SPPG Yarim Jerowaru, sehingga memicu beragam reaksi warganet.
Berdasarkan penelusuran media ini dari sejumlah sumber yang enggan disebutkan identitasnya, menu tersebut awalnya disebut sebagai jatah untuk tiga hari. Namun, setelah menu tersebut viral di media sosial, pembagiannya disebut berubah menjadi untuk dua hari.
“Setahu saya itu memang menu untuk tiga hari. Tapi setelah viral di Facebook, akhirnya dijelaskan jadi dua hari, dan kepala dapur meminta relawan untuk ikut mengklarifikasi,” ujar sumber tersebut.
Polemik semakin mencuat setelah beredar video yang memperlihatkan seorang guru dari salah satu SMP Negeri di Kecamatan Jerowaru mendatangi dapur MBG Yarim untuk meminta penjelasan. Pihak sekolah disebut menolak pembagian menu untuk tiga hari karena dinilai tidak sesuai dengan anggaran.
Dalam video tersebut, terdengar percakapan antara guru dan Tiara selaku akuntan dapur MBG Yarim yang menjelaskan rincian harga menu. Disebutkan, harga satu butir telur Rp3.000 atau Rp57.000 per tray, susu ukuran 110–125 ml Rp3.500 per kotak, tempe goreng isi sekitar 7–8 potong Rp4.000, buah pir kecil Rp5.000 per buah, dan roti Rp2.500 per bungkus. Namun, tidak dijelaskan biaya paper bag yang digunakan sebagai kemasan.
Tiara menyebutkan bahwa harga tersebut merupakan harga dari supplier. Dengan anggaran Rp10.000 per siswa per hari, maka total untuk tiga hari sebesar Rp30.000. Meski demikian, penjelasan tersebut tetap dipersoalkan oleh guru tersebut yang mengaku mengetahui harga pasaran di wilayah Jerowaru dan Keruak.
“Tidak mungkin telur harganya tiga ribu, saya juga jual telur, di kios saya dua ribu. Apalagi ini beli dalam jumlah besar,” ujar guru tersebut dalam video.
Menanggapi viralnya isu tersebut, dikutip dari media NTBPOS.com, Kepala SPPG Yarim Jerowaru, Lalu Febri Siswandi, membantah adanya pembagian menu untuk tiga hari. Ia menegaskan bahwa menu tersebut memang diperuntukkan untuk dua hari dan menyebut polemik yang terjadi akibat kesalahpahaman.
Menurutnya, pendistribusian MBG dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni pada Senin dan Kamis, menyesuaikan dengan hari libur nasional.
“Minggu ini distribusi dua kali. Senin untuk Senin–Selasa, dan Kamis untuk Rabu dan Sabtu, karena Kamis-Jumat libur tanggal merah. Itu sudah kami klarifikasi,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPI Lombok Timur, Agamawan Salam, mengatakan bahwa temuan dan kritik masyarakat terkait menu MBG harus ditindaklanjuti secara terbuka oleh kepala SPPG.
Ia menegaskan, kepala SPPG bertanggung jawab penuh terhadap pembayaran dan pengawasan anggaran, termasuk memastikan kesesuaian nota belanja dari supplier.
“Kalau ada dugaan ketidaksesuaian, kepala SPPG harus bisa membuktikan. Mitra bertugas membuat nota belanja, dan kepala SPPG sebagai pihak yang menyetujui pembayaran,” jelas Agam saat dihubungi via telepon, Selasa (23/12).
Agam juga menilai kritik masyarakat sebagai bentuk kontrol publik yang sah dan tidak boleh direspons secara defensif oleh pengelola dapur.
“Terkait dugaan pembohongan publik, kita lihat faktanya. Kalau memang diklaim dua hari, maka harus dipastikan distribusi satu minggu itu terpenuhi. Kalau tidak, baru bisa disebut pembohongan publik,” tegasnya.
Ia turut mengapresiasi kepedulian masyarakat dan meminta peran media terus diperkuat sebagai pengawas independen dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Lombok Timur.(GL)








