Gledeknews, Lombok Timur – Penyaluran Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kembang Sari 1 Selong di Lombok Timur menjadi sorotan publik setelah sebuah video berdurasi 43 detik beredar luas di media sosial Facebook.
Video yang diunggah oleh akun Makhaya Bread itu memperlihatkan susu kedelai dalam botol kemasan yang tampak mengental dan tidak lagi cair sebagaimana susu pada umumnya.
Produk susu kedelai tersebut diketahui berasal dari salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Selong, Lombok Timur (Lotim), yang menjadi mitra penyedia menu MBG. Susu itu didistribusikan SPPG Kembang Sari 1 Selong ke SD IT Darul Fikri, sebelum akhirnya memicu pertanyaan publik terkait kualitas dan keamanan pangan.
Ketua SPPG Kembang Sari 1 Selong, Aprian Ihza Mahendra, mengatakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Lotim meminta agar setiap produk pangan yang disalurkan melalui program MBG dilengkapi deskripsi dan keterangan masa berlaku.
“Supaya konsumen bisa langsung melihat dan membaca batas waktunya,” ujar Aprian saat dikonfirmasi kemarin, Sabtu (17/1).
Aprian menambahkan, pihak suplayer mengakui adanya kelalaian dalam proses distribusi. “Suplayernya merasa bersalah karena susu yang diproduksi telat dikonsumsi,” katanya.
Sementara, Ahli Gizi SPPG Kembang Sari 1 Selong, Kholida Eliyana, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan awal dari pihak pemasok, proses pemanasan susu kedelai dilakukan pada suhu sekitar 85 derajat Celsius. Namun, pemanasan tersebut diduga tidak merata.
“Dari penjelasan suplayer proses pemanasan tidak merata. Berdasarkan analisis kami, ada dua kemungkinan, yakni suhu yang tidak stabil saat penyimpanan atau proses distribusi yang tidak sesuai prosedur,” ujar Kholida kepada media.
Ia menambahkan, produk susu kedelai termasuk pangan tinggi protein yang rentan mengalami kerusakan apabila berada pada suhu tertentu atau dikonsumsi tidak tepat waktu.
“Ini produk UMKM dan berbasis protein. Protein cepat rusak jika suhu tidak terjaga, apalagi jika konsumsinya terlambat,” katanya.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, pihak dapur SPPG bersama supplier menggelar diskusi yang turut dihadiri Dinkes Lotim. Dalam pertemuan itu, Dinkes Lotim menyarankan agar proses pengantaran dilengkapi dengan media penyimpanan yang lebih memadai untuk menjaga stabilitas suhu produk.
Selain itu, pelaku UMKM juga diminta segera mengurus perizinan serta mencantumkan label pada kemasan produk. Label tersebut diharapkan memuat informasi tanggal produksi dan batas waktu konsumsi.
“Kami sarankan penggunaan media pengantaran yang layak dan pelabelan yang jelas, supaya konsumen tahu batas aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, SPPG Kembang Sari 1 Selong memutuskan menghentikan sementara penerimaan susu kedelai dari UMKM tersebut. “Untuk sementara kami setop dulu,” tandasnya.(GL)








