Gledeknews, Lombok Timur – Media sosial (medsos) di Lombok Timur dihebohkan oleh unggahan pilu seorang orang tua murid asal Kecamatan Peringgabaya. Unggahan tersebut viral setelah sang ayah meluapkan kekesalannya lantaran anaknya diduga menjadi korban perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Tak hanya itu, orang tua korban mengaku justru mendapatkan tekanan dan intimidasi dari pihak sekolah usai curhatannya beredar luas di medsos.
Ayah korban berinisial HAZF, Supriyadi, saat ditemui media ini pada Selasa (3/2), menuturkan bahwa unggahan tersebut dibuat sebagai bentuk luapan emosi dan kepeduliannya terhadap kondisi anaknya yang disebut mengalami trauma fisik dan psikis akibat perlakuan teman sekelasnya.
“Hati saya hancur melihat kondisi anak saya. Wajar kan sebagai orang tua, kita marah. Makanya saya posting di Facebook,” ujarnya.
Namun, alih-alih mendapatkan solusi atau perlindungan, ia mengaku keluarganya justru mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Ia menyebut istrinya dikeluarkan dari grup WhatsApp wali murid setelah unggahan tersebut viral.
“Setelah saya posting, istri saya dikeluarkan dari grup WA wali murid. Kami merasa seperti diintimidasi,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Ia juga menyebut pihak sekolah sempat mendatangi dirinya dan sampaikan kekecewaan atas unggahan yang ia buat.
“Pihak sekolah kecewa ke saya karena memposting kejadian anak saya. Padahal awalnya saya yang kecewa, malah mereka yang balik kecewa ke saya,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa dalam unggahan tersebut tidak pernah menyebut nama sekolah maupun oknum tertentu. Langkah memposting di medsos terpaksa dilakukan lantaran sebelumnya tidak ada respons dari pihak sekolah.
“Saya sudah menunggu sekitar dua hari setelah kejadian, tapi tidak ada respon sama sekali. Baru setelah itu saya posting di Facebook,” jelasnya.
Menurutnya, reaksi yang ditunjukkan pihak sekolah tidak mencerminkan upaya perlindungan terhadap korban, melainkan justru memperkeruh keadaan.
“Wajar sebagai seorang ayah saya kecewa dan marah melihat anak saya menjadi korban bullying,” pungkasnya.
Sedangkan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lotim, Nurul Wathoni, saat dikonfirmasi mengaku belum menerima informasi terkait kasus tersebut. Ia menyatakan akan segera melakukan pengecekan langsung ke rumah sakit.
“Terima kasih atas informasinya. Saya akan mengecek langsung dengan mendatangi RSUD Selong,” ujarnya singkat.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah yang bersangkutan, termasuk Kepala Sekolah Remi, belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan intimidasi terhadap keluarga korban.(GL)








