Gledeknews, Lombok Timur – Seorang siswa sekolah dasar (SD) kelas I di salah satu sekolah di Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, berinisial MHASF, diduga menjadi korban perundungan (bullying) oleh teman sekelasnya. Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami memar serius dan diduga mengalami patah tulang pada kaki kiri.
Saat ini, korban tengah menjalani perawatan intensif di RSUD dr. R. Soedjono Selong dan masih menunggu hasil pemeriksaan rontgen untuk memastikan kondisi tulangnya serta menentukan tindakan medis lanjutan, termasuk kemungkinan operasi.
Tak hanya itu, orang tua korban mengaku justru mendapat tekanan dan intimidasi dari pihak sekolah setelah curhatannya terkait kondisi anaknya beredar luas di media sosial.
Menanggapi dugaan tersebut, Kepala Sekolah SD setempat, Zainul, berikan klarifikasi terkait isu perundungan yang belakangan menjadi perhatian publik. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah masih menunggu hasil screening dari tenaga psikolog untuk memastikan kronologi kejadian yang sebenarnya.
Ia menjelaskan, pada Rabu (28/1), pihak sekolah bersama wali kelas dan seluruh siswa kelas I melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan ruang kelas akibat bau kotoran tikus yang menyengat. Kegiatan berlangsung hingga selesai, bahkan wali kelas sempat membelikan es untuk seluruh siswa sebelum pulang sekolah.
“Pada hari itu, tidak ada laporan pemukulan atau kejadian yang mengarah pada tindak kekerasan di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Kemudian, pada Sabtu, pihak sekolah menerima informasi bahwa salah satu siswa mengalami sakit dan mengaku ditendang oleh temannya. Saat menjalani pemeriksaan di Klinik Candra, korban beberapa kali menyebut nama seorang siswa yang juga teman sekelasnya..
“Mendapat informasi tersebut, saya langsung menjenguk ke klinik dan memanggil orang tua teman kelasnya. Saat itu, temanya menyatakan tidak pernah memukul atau menendang temannya,” jelasnya.
Untuk memastikan kebenaran kejadian serta kondisi psikologis korban, pihak sekolah kemudian melakukan konsultasi dengan dokter psikolog yang menangani korban. Berdasarkan hasil screening awal, dugaan kejadian justru mengarah terjadi setelah jam sekolah atau di luar lingkungan sekolah.
Selain itu, keterangan dari sejumlah teman sekelas menyebutkan bahwa korban sempat naik ke atas bangku dan kemudian terjatuh. Saat dijenguk di RSUD, korban juga memberikan keterangan serupa, bahwa dirinya jatuh dari bangku.
“Keduanya merupakan teman baik dan juga teman sebangku. Hingga saat ini keterangan yang diperoleh masih beragam,” tambahnya.
Kasus ini kini ditangani oleh psikolog dari Puskesmas Labuhan Lombok. Pada pagi hari, psikolog juga telah mendatangi sekolah untuk melakukan wawancara terhadap Malik.
Ia mengakui bahwa proses pemeriksaan cukup menantang mengingat kedua siswa masih duduk di kelas I sekolah dasar.
“Karena usia mereka masih sangat dini, proses screening dilakukan secara hati-hati, baik terhadap korban maupun temanya. Kejadian yang sebenarnya belum dapat dipastikan, kami masih menunggu hasil akhir dari tim psikolog,” pungkasnya.(GL)








