Gledeknews, Lombok Timur – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Suralaga 2, Nisa Alistiana, memberikan klarifikasi terkait menu roti dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang viral di media sosial dan disorot oleh sejumlah orang tua siswa penerima manfaat di Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur.
Saat dikonfirmasi, Nisa tidak membantah bahwa roti yang menjadi perbincangan warganet tersebut merupakan salah satu menu yang didistribusikan oleh dapur MBG Suralaga 2 kepada para siswa.
Ia menjelaskan, roti tersebut diperoleh dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang menjadi mitra penyedia makanan bagi dapur SPPG. Menurutnya, saat roti diambil dari pihak UMKM, kondisinya masih baru matang dan hangat.
“Kami mengambil roti dari UMKM. Kebetulan saat kami ambil rotinya baru matang dan masih hangat. Kondisinya juga saat itu sedang puasa, jadi dari tampilannya terlihat menarik dan harganya juga sesuai dengan bajet yang ada,” jelasnya, Rabu (11/3).
Ia menuturkan, pihaknya memesan roti dengan harga Rp15 ribu untuk satu paket menu MBG. Sementara roti berbentuk bulat digunakan untuk porsi kategori B3 dengan harga sekitar Rp10 ribu.
“Kami pesan yang harga Rp15 ribu, sedangkan roti yang bulat itu untuk porsi B3 dengan harga Rp10 ribu. Kami juga sudah mengonfirmasi ke suplier dan mereka telah menyampaikan permintaan maaf,” katanya.
Lebih lanjut, Nisa menyebutkan berdasarkan keterangan dari pihak suplier, keluhan terkait roti tersebut baru pertama kali terjadi. Selama ini, roti dari UMKM tersebut juga dipesan oleh beberapa dapur MBG lainnya dan belum pernah mendapat komplain dari penerima manfaat.
“Menurut suplier, baru kali ini ada yang komplain seperti ini. Karena banyak dapur lain juga yang memesan roti dari UMKM tersebut sebagai menu MBG mereka,” ungkapnya.
Meski demikian, pihaknya mengaku akan menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi. Ke depan, dapur SPPG Suralaga 2 berkomitmen untuk lebih selektif dalam memilih mitra UMKM sebagai penyedia makanan agar kualitas menu yang didistribusikan kepada para siswa tetap terjaga.
“Ke depan kami akan lebih selektif dalam memilih UMKM yang menjadi mitra suplier, terutama yang produknya benar-benar berkualitas,” pungkasnya.
Sebelumnya, Sorotan tersebut muncul dari unggahan akun Facebook @Jihan Mykekey yang memperlihatkan menu roti yang didistribusikan kepada siswa penerima manfaat program MBG. Dalam unggahannya, pemilik akun mempertanyakan kelayakan serta kandungan gizi dari roti yang diberikan.
“Bukan masalah bersyukur, tapi layak tidak dimakan sama anak-anak. Ini butuh air satu liter buat mencerna roti ini. Kasian kan kalau dibuang mubazir,” tulis akun tersebut dalam postingannya pada Selasa (11/3).
Dalam video berdurasi sekitar satu menit lima detik itu, terdengar sejumlah orang tua siswa mempertanyakan keberadaan ahli gizi yang bertanggung jawab atas menu makanan yang disediakan oleh dapur SPPG tersebut. Mereka menilai roti yang diberikan tidak mencerminkan makanan bergizi seperti tujuan program MBG.
“Siapa ahli gizinya? Masyaallah kok begini yang dikasih. Ini SPPG 2 Suralaga, gizinya di mana? Ini butuh satu liter air baru bisa kita makan,” ujar salah seorang dalam video tersebut.(GL)








