Gledeknews, Lombok Timur – Di tengah tantangan keterbatasan air saat musim kemarau, warga Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur, justru menunjukkan langkah inovatif dalam menjaga produktivitas pertanian. Sejumlah petani mulai menerapkan sistem irigasi tetes (drip irrigation) pada lahan sayur dan tanaman palawija.
Metode irigasi tetes merupakan teknik pemberian air secara perlahan langsung ke zona akar tanaman melalui jaringan pipa kecil berlubang. Sistem ini dinilai lebih efisien karena mampu menekan pemborosan air akibat penguapan maupun limpasan.
Inisiatif ini digerakkan oleh kelompok petani muda setempat. Salah seorang petani, Yonk (42), mengungkapkan bahwa ide tersebut muncul setelah mengikuti pelatihan pertanian lahan kering serta belajar secara mandiri melalui media sosial.
“Kami belajar bahwa air yang sedikit pun bisa dimaksimalkan jika diberikan tepat sasaran. Di sini musim kemarau panjang, sumur mulai surut. Dengan irigasi tetes, kami tetap bisa menanam cabai dan tomat tanpa boros air,” ujarnya, Rabu (6/5).
Secara teknis, sistem yang digunakan masih sederhana. Air ditampung dalam tandon yang ditinggikan sekitar satu meter, kemudian dialirkan melalui pipa utama yang tersambung ke selang-selang kecil di setiap barisan tanaman. Air mengalir perlahan dalam bentuk tetesan, menjaga kelembapan tanah tanpa menyebabkan genangan.
“Kami anggap ini solusi efektif. Lahan kering yang sebelumnya kurang produktif, kini bisa dimanfaatkan meski di musim kemarau,” tambahnya.
Kepala Dusun Monek, Desa Ketangga, Rasid Ridoh, mengapresiasi inovasi tersebut. Ia menilai penggunaan teknologi tepat guna ini menjadi alternatif penting bagi petani di wilayah yang tidak memiliki akses irigasi teknis.
“Selama ini kami hanya mengandalkan tadah hujan. Dengan irigasi tetes, ada solusi baru untuk menjaga ketahanan pangan,” katanya.
Ke depan, pihaknya berencana mendorong lebih banyak petani untuk mengadopsi sistem ini, meski diakui masih ada tantangan dalam sosialisasi, termasuk perubahan pola pikir petani yang masih bergantung pada metode konvensional.
“Seperti halnya pupuk organik, masih butuh waktu untuk mengubah kebiasaan. Tapi kami akan terus dorong agar masyarakat mulai beralih ke sistem yang lebih efisien,” ujarnya.
Ia juga berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, terutama dalam bentuk pendampingan teknis serta kemudahan akses bahan baku, agar penerapan irigasi tetes dapat diperluas di Lombok Timur.
Sementara itu, Ketua Media Speaker Kampung, Hajad Guna Roasmadi, menyebut lahan pertanian tersebut kini juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi oleh jurnalis warga dan konten kreator untuk mengampanyekan pertanian ramah lingkungan.
“Melalui media sosial dan media alternatif, kami mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan lahan kering dengan konsep irigasi tetes,” jelasnya.
Ia menambahkan, kampanye yang dilakukan oleh Jurnalis Warga Perempuan dan Konten kreator tersebut juga didukung oleh Non-Governmental Organization (NGO) internasional Uni Eropa dan Pena bulu, yang konsen memberikan edukasi kepada masyarakat untuk ekonomi hijau agar memanfaatkan lahan kering milik warga.
“Semoga kampanye yang kami lakukan ini menjadi edukasi bagi warga untuk ekonomi hijau di Lombok Timur,” pungkasnya.(GL)








