Gledeknews, Lombok Timur – Salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Suela, Lombok Timur, menuai sorotan publik. Sejumlah orang tua penerima manfaat mempersoalkan menu MBG yang dinilai tidak sebanding dengan jatah distribusi selama lima hari.
Sorotan tersebut mencuat setelah akun Facebook @Ninsi Putriana Dewi posting foto menu MBG dengan keterangan, “Katanya untuk lima hari. Cocoknya ini untuk tiga hari.” Dalam unggahan tersebut terlihat paket menu berupa dua kotak susu, satu buah pir, dua jenis roti, dan abon yang disebut sebagai jatah lima hari bagi penerima manfaat.
Unggahan itu pun memantik beragam reaksi warganet. Sejumlah akun melontarkan kritik keras. Akun @Eka Tresnawati menulis, “Makin dirapel makin irit isinya. Padahal dapur juga irit biaya operasional kan yaaaa.” Sementara akun @Salda Lenge mempertanyakan, “Kenangku jatah untuk tiga hari.”
Komentar bernada satir juga muncul dari akun @Malka Halwa, “Lamun na untuk 3 hari ba kelebihan so ya”.
Di sisi lain, tidak sedikit pula yang memberikan tanggapan positif. Akun @Faza Jaelani mengajak untuk bersyukur, “Berhubung bulan puasa Bun, perbanyak bersyukur biar rizkinya mengalir terus”.
Perdebatan semakin menguat ketika akun @Salvia mencoba merinci perhitungan harga menu MBG. Dalam komentarnya, ia menghitung jatah balita lima hari dengan nilai Rp8.000 per hari atau total Rp40.000, lalu merinci estimasi harga menu hingga mencapai Rp43.000. “Saya rasa sudah pas kok ini, kenapa dipermasalahkan,” tulisnya.
Sedangkan akun resmi SPPG Suela juga ikut memberikan klarifikasi di kolom komentar. Melalui akun @Sppg Suwea Suela, pihak SPPG menyatakan bahwa paket tersebut diperuntukkan bagi anak TK hingga SD kelas 3.
“Jadi gini buk, itu jatah untuk anak TK sampai SD kelas 3. Jika menurut ibu jatah dua hari, 8.000 x 2 = 16.000, apakah ibu akan mendapatkan segitu banyaknya buk,” tulis akun tersebut.
Sementara itu, Kepala SPPG Lombok Timur Suwea Suela, Muhammad Subki, membenarkan bahwa menu yang diposting akun @Ninsi Putriana Dewi memang berasal dari dapur MBGnya dan telah didistribusikan kepada penerima manfaat.
“Gih, makannya tiang masih konfirmasi sama yang posting niki,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.
Namun demikian, Kepala SPPG enggan memberikan penjelasan lebih lanjut terkait mekanisme perhitungan menu lima hari di internal SPPG. Sikap ini menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat, terutama para orang tua penerima manfaat yang berharap adanya keterbukaan dan evaluasi.(GL)








