Gledeknews, Lombok Timur –Di tengah memanasnya situasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lombok Timur terus memantau kondisi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berada di kawasan tersebut.
Kepala Disnakertrans Lombok Timur, H. Suroto, mengatakan pihaknya terus mengikuti perkembangan situasi PMI melalui koordinasi dengan kementerian terkait serta berbagai sumber informasi lainnya, termasuk media sosial.
“Kami tetap memantau perkembangan PMI kita, baik melalui informasi dari kementerian yang menangani PMI maupun dari media sosial,” ujarnya. Kamis (12/3).
Ia menjelaskan, pihaknya belum memiliki data pasti mengenai jumlah PMI asal Lombok Timur yang saat ini berada di kawasan Timur Tengah. Hal itu disebabkan banyaknya pekerja migran yang telah kembali ke daerah asal sejak lama sehingga sulit untuk dideteksi secara akurat.
Meski demikian, berdasarkan data keberangkatan melalui rekomendasi Disnakertrans, pada tahun 2023 tercatat sekitar 250 orang PMI asal Lombok Timur berangkat ke negara-negara Timur Tengah. Jumlah tersebut belum termasuk pekerja migran yang berangkat pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kami tidak punya data pasti jumlah PMI di Timur Tengah, karena yang sudah pulang sejak dulu tidak bisa terdeteksi lagi. Kalau yang berangkat melalui rekomendasi Disnaker, data terakhir tahun 2023 sekitar 250 orang,” jelasnya.
Suroto menegaskan, saat ini Disnakertrans Lombok Timur terus melakukan komunikasi dan konsultasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), serta Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya masalah yang menimpa PMI di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi NTB juga telah melakukan koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang berada di sejumlah negara Timur Tengah untuk memastikan kondisi para pekerja migran tetap terpantau.
Selain itu, pihaknya juga mengimbau keluarga PMI agar segera melapor apabila ada anggota keluarga mereka yang mengalami permasalahan saat bekerja di luar negeri.
“Kami berharap jika ada PMI atau keluarga PMI yang memiliki masalah agar melapor dengan menyebutkan BNBA atau data lengkap, supaya kami mudah merespons dan menindaklanjuti laporan tersebut,” katanya.
Di sisi lain, Suroto menyebutkan bahwa tujuan utama penempatan PMI asal Lombok Timur saat ini masih didominasi oleh Malaysia dengan persentase sekitar 80 persen.
“Namun pada tahun ini mulai meningkat permintaan tenaga kerja dari Jepang dan Jerman, terutama untuk sektor kesehatan seperti tenaga perawat,” pungkasnya.(GL)








