Gledeknews, Lombok Timur – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Semeton Darul Hikmah Kembang Sari memberikan klarifikasi terkait menu paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat menjadi sorotan pihak sekolah dan masyarakat karena dinilai memiliki porsi kecil.
Menu MBG yang dipersoalkan tersebut berupa paket makanan kering yang terdiri dari pisang cavendish premium, abon ayam, dan kentang musthofa dengan anggaran sekitar Rp10.000 per porsi untuk siswa tingkat SMP.
Kepala SPPG Semeton Darul Hikmah Kembang Sari, Buhairatul Amni, sampaikan permohonan maaf apabila menu yang diberikan dinilai kurang berkenan atau menimbulkan ketidakpuasan dari pihak sekolah maupun siswa penerima manfaat.
“Kami menyampaikan permohonan maaf apabila menu yang diberikan dirasa kurang berkenan. Masukan dari pihak sekolah sangat kami hargai sebagai bahan evaluasi untuk peningkatan kualitas pelayanan program MBG ke depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, paket menu tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi bulan Ramadan. Karena itu, dipilih menu kering yang lebih praktis, tahan disimpan, dan mudah dikonsumsi saat berbuka puasa maupun setelah kegiatan belajar di sekolah.
Selain itu, komposisi bahan makanan yang digunakan juga tetap memperhatikan keseimbangan gizi dasar yang dibutuhkan oleh siswa.
Dalam satu paket MBG tersebut, pisang cavendish dengan berat sekitar 180 gram diperkirakan mengandung energi sekitar 150–160 kilokalori. Buah tersebut juga menjadi sumber karbohidrat alami dan serat yang baik untuk membantu rasa kenyang lebih lama serta mendukung kesehatan pencernaan.
Sementara itu, abon ayam sebanyak 60 gram berfungsi sebagai sumber protein hewani utama dengan kandungan protein sekitar 18–22 gram serta energi sekitar 250–300 kilokalori, yang membantu pemulihan energi tubuh setelah berpuasa.
Adapun kentang musthofa sebanyak 60 gram memberikan tambahan energi sekitar 250–300 kilokalori, yang berasal dari karbohidrat dan lemak sebagai cadangan energi bagi tubuh saat berbuka puasa.
Secara keseluruhan, paket menu tersebut diperkirakan memberikan kontribusi energi sekitar 650 hingga 750 kilokalori, dengan kombinasi karbohidrat, protein hewani, serta serat yang dinilai cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan energi awal siswa saat berbuka puasa.
Selain mempertimbangkan nilai gizi, penyusunan menu juga menyesuaikan dengan batas anggaran yang telah ditetapkan, yakni Rp10.000 per porsi, serta memperhatikan ketersediaan bahan pangan yang layak konsumsi dan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.
Meski demikian, pihak pengelola mengakui bahwa variasi menu dan selera siswa juga menjadi faktor penting dalam pelaksanaan program MBG.
“Seluruh masukan dari pihak sekolah dan masyarakat akan kami jadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki penyajian menu ke depan, agar program MBG dapat berjalan lebih baik dan tetap memberikan manfaat optimal bagi para siswa penerima manfaat,” pungkasnya.(GL)








