Gledeknews, Lombok Timur — Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDAM Lombok Timur, Sopyan Hakim, menyatakan bahwa proyek pemasangan pipa yang berdampak pada kerusakan jalan di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, merupakan pekerjaan tahun 2022 yang dilaksanakan pada masa pejabat sebelumnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Sopyan saat dikonfirmasi pada Rabu (4/3), menanggapi keluhan warga yang hingga kini masih harus berjibaku dengan kondisi jalan rusak.
“Setelah kami konfirmasi secara internal, PDAM Lombok Timur sudah menyalurkan dana kepada pihak desa untuk perbaikan jalan,” ujarnya.
Ia menegaskan PDAM tidak lepas tangan terhadap dampak proyek tersebut.
“Kami tidak lepas tanggung jawab. Bahkan kami bertanggung jawab. Dana perbaikan sudah kami serahkan,” tegasnya.
Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Desa Ketangga terkait realisasi dan penggunaan dana perbaikan yang disebut telah disalurkan oleh pihak PDAM. Sementara di lapangan, kondisi jalan masih jauh dari kata layak.
Sebelumnya diberitakan, jalan yang semula mulus kini berubah menjadi berlubang dan bergelombang. Kerusakan tersebut merupakan dampak penggalian proyek jaringan pipa PDAM beberapa tahun lalu yang tak kunjung dipulihkan secara semestinya oleh pihak pelaksana.
Ketua Pemuda Dusun Montong Gedeng, Paesal Kodrat, mengungkapkan kekecewaan warga atas kondisi tersebut.
“Kami sangat kecewa. Pekerjaan PDAM selesai, tapi jalan ditinggal begitu saja. Ini satu-satunya akses ke rumah warga dan ke Masjid Pusaka. Kalau tidak diperbaiki sekarang, bagaimana nanti saat Lebaran? Keluarga yang mudik pasti kesulitan lewat sini,” tegas Paesal saat ditemui di lokasi gotong royong, Selasa (3/3) malam.
Menurut warga, pasca pengerjaan proyek, kontraktor pelaksana tidak melakukan pemulihan jalan sebagaimana mestinya. Setiap hujan turun, bekas galian berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan membahayakan, terutama bagi pengendara motor, anak-anak, dan warga lanjut usia.
Menghadapi kondisi darurat menjelang hari raya, warga akhirnya sepakat bergerak tanpa menunggu kepastian. Dana dikumpulkan secara sukarela, semen dibeli patungan, sementara material seperti pasir dan batu disumbangkan oleh warga yang mampu.
“Kami tidak bisa hanya menunggu janji yang tidak jelas. Lebih baik kerja bakti. Yang penting jalan ini aman dilewati untuk silaturahmi nanti,” ujar Has Tutik, warga setempat yang ikut membantu dengan menyediakan minuman bagi para pekerja.
Warga berharap kejadian ini menjadi pelajaran serius bagi PDAM Lombok Timur dan kontraktor rekanannya. Mereka menegaskan tidak menolak pembangunan, namun meminta setiap proyek yang menyentuh fasilitas publik diselesaikan hingga tuntas.
“Kami tidak anti pembangunan. Tapi kalau mengerjakan proyek untuk kepentingan umum, tolong bertanggung jawab penuh. Jangan warga yang harus menanggung akibatnya,” tandasnya.(**)








