Gledeknews, Lombok Timur – Tiga orang aktivis pergerakan menjadi korban berdarah dalam aksi jilid I dan II Aliansi Peduli Pariwisata (APIPI) Lombok Timur di Kantor Bupati Lombok Timur (Lotim) tanggal 20 dan 22 Januari 2026 kemarin.
Bahkan dari tiga korban itu satu diantaranya aktivis mengalami rontok giginya saat aksi yang dilakukan. Dengan saling dorong dan tarik dengan aparat yang mengamankan jalannya aksi.
Sementara massa aksi bersikeras untuk bertemu dengan Bupati Lotim untuk menyampaikan tuntutannya, akan tetapi direspon justru mengutus Sekda Lotim, Asisten 1 dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Lotim untuk menemui massa aksi, tetapi tidak menemui kata sepakat.
Kemudian setelah adanya korban dari massa aksi, apalagi akan adanya aksi jilid III baru Bupati Lotim H. Haerul Warisin memerintahkan Sekda Lotim HM. Juaini Taofik untuk mengundang tokoh-tokoh penting dalam aksi itu di pendopo Bupati Lotim, Jumat (23/1)
Untuk melakukan silaturahmi dan berdiskusi mengenai apa yang menjadi tuntutannya dari massa aksi.
“Masa setelah ada korban berdarah dari kami baru bupati mengundang kami di pendopo kan ini tidak benar caranya,” keluh sejumlah aktivis pergerakan di Lotim.
Dalam pertemuan di pendopo Bupati Lotim yang dipimpin Bupati Lotim, H. Haerul Warisim dengan didampingi Wakil Bupati Lotim, H. Edwin Hadiwijaya dan Sekda Lotim, HM. Juaini Taofik bersama OPD terkait.
Dalam penegasan Bupati Lotim, tidak pernah melarang aksi dan tidak anti kritik karena sangat bagus sebagai pengingat dalam evaluasi kebijakan.
Sementara terhadap dirinya tidak menerima aksi, karena pada hari pertama demonstrasi dirinya berada di lokasi, sehingga menugaskan sekda.
Kemudian aksi jilid II dirinya tidak pernah tahu ada demo karena tidak ada yang memberi tahu dirinya terhadap adanya aksi tersebut.
“Kami turut prihatin atas adanya korban luka dalam aksi tersebut,sedangkan apa yang menjadi tuntutan menjadi atensi dirinya,” katanya.
Sementara dikalangan aliansi tersebut kini menjadi perbincangan mengenai tidak semua yang diundang dalam pertemuan tersebut, karena harusnya semua bisa hadir untuk mendengarkan Bupati.
“Pendopo kan luas masak karena alasan tempat terbatas kemudian banyak tidak diundang kan ini jadi pertanyaan kita,” katanya.(GL).








