Gledeknews, Lombok Timur – Jumlah hewan kurban di Lombok Timur pada perayaan Idul Adha tahun ini mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan data hasil pemeriksaan petugas kesehatan hewan, jumlah hewan kurban tercatat mencapai 1.223 ekor atau naik sekitar 19,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur (Lotim), drh. Hultatang, menjelaskan dari total tersebut sebanyak 477 ekor merupakan sapi, sementara lebih dari 700 ekor lainnya adalah kambing.
“Untuk hewan kurban kita saat ini mengalami peningkatan 19,8 persen menjadi 1.223 ekor. Dari jumlah tersebut sekitar 477 ekor sapi dan lebih dari 700 ekor kambing,” ujarnya, Rabu kemarin (4/6).
Menurutnya, peningkatan tersebut menjadi indikator positif terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai semakin membaik, sekaligus mencerminkan tingginya semangat berkurban di tengah masyarakat.
Sedang dalam pengawasan hewan kurban tahun ini, Dinas Peternakan Lombok Timur menaruh perhatian pada dua jenis penyakit, yakni cacing hati dan anthraks. Cacing hati disebabkan oleh parasit Fasciola yang dapat menyerang organ hati ternak.
Meski demikian, Hultatang memastikan penyakit tersebut tidak berbahaya bagi manusia selama daging dimasak dengan sempurna.
“Kalau kecacingan tidak menular dari daging ke manusia. Yang penting daging dimasak hingga matang,” jelasnya.
Sementara itu, anthraks menjadi perhatian utama karena bersifat zoonosis atau dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan, pernapasan hingga infeksi kulit pada manusia.
Meski menjadi perhatian serius, Hultatang memastikan seluruh hewan kurban yang dipotong di Lombok Timur dalam kondisi sehat dan tidak ditemukan indikasi anthraks.
“Kita bersyukur karena hewan kurban yang dipotong di Lombok Timur tidak ditemukan indikasi penyakit tersebut,” katanya.
Namun demikian, pengawasan tetap diperketat mengingat wilayah Pulau Sumbawa dikenal sebagai daerah endemis anthraks, sehingga potensi penularan melalui lalu lintas ternak tetap diantisipasi.
Untuk menjamin keamanan hewan kurban, Dinas Peternakan setiap tahun menerapkan pemeriksaan antemortem (sebelum pemotongan) dan postmortem (setelah pemotongan). Petugas kesehatan hewan ditempatkan di seluruh desa guna memastikan ternak yang disembelih memenuhi standar kesehatan.
Selain itu, pemeriksaan organ dalam seperti limpa juga menjadi indikator penting untuk memastikan kondisi kesehatan ternak.
“Kami menempatkan petugas di setiap desa untuk mengawal dan memeriksa ternak sesuai prosedur,” tegasnya.
Lebih lanjut, peningkatan jumlah hewan kurban juga dinilai sebagai gambaran meningkatnya daya beli masyarakat. Menurut Hultatang, kemampuan masyarakat dalam berkurban menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif stabil dan membaik.
Ia juga mengapresiasi sejumlah masjid yang telah menerapkan program tabungan kurban bagi jamaah, seperti Masjid Al Umari Gelayu, Masjid At-Taqwa Pancor, dan Masjid Al Mujahidin Aikmel.
“Program tabungan kurban sangat membantu masyarakat agar bisa berkurban tanpa terasa berat,” pungkasnya.(GL)








