Gledeknews, Lombok Timur – Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Lombok Timur mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan baku, khususnya produk susu kemasan kotak untuk menu kering yang menjadi salah satu menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah Kepala SPPG saat dimintai keterangan oleh media di beberapa lokasi. Sejumlah Ketua SPPG di wilayah Suralaga, Sakra dan Masbagik mengungkapkan, kesulitan mendapatkan susu kotak baru dirasakan dalam beberapa waktu terakhir. Padahal sebelumnya, ketersediaan susu kemasan masih relatif lancar.
“Sekarang ini susah sekali kita dapatkan susu kotak kemasan. Awalnya tidak seperti ini. Kami juga tidak tahu apakah memang dari perusahaannya yang mulai membatasi distribusi,” ujar sejumlah Kepala SPPG yang enggan disebutkan namanya beberapa hari yang lalu. Senin (19/1).
Tak hanya sulit didapatkan, harga susu kotak dari para suplayer juga dilaporkan mengalami kenaikan. Hal ini di ungkapkan sejulah SPPG di Selong dan Sukamulia, tidak terkecuali keluhan dari para mitra suplayer keluhkan harga tersebut. Sehingga kondisi tersebut berdampak langsung pada penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang dilakukan oleh dapur MBG SPPG masing-masing.
“Kami terkendala ketersediaan bahan baku. Biasanya kami sudah membuat simulasi menu atau master menu yang kemudian diserahkan ke suplayer. Namun sering kali saat hari pelaksanaan, bahan bakunya tidak tersedia,” jelasnya.
Menurutnya, persoalan lain yang kerap muncul adalah ketidaksesuaian harga dengan anggaran yang telah ditetapkan. Meskipun bahan baku tersedia, harga yang ditawarkan sering kali jauh di atas batas anggaran MBG.
“Dengan anggaran Rp8.000 untuk porsi kecil sampai Rp10.000 per porsi, posisinya jadi sangat berat. Kadang selisih harganya terlalu jauh,” keluhnya.
Kondisi tersebut berdampak pada porsi dan variasi menu yang diterima oleh penerima manfaat. Tak jarang, masyarakat mempertanyakan jumlah dan kualitas makanan yang diberikan.
“Makanya bisa dilihat, porsi MBG ini jadi sangat terbatas sesuai dengan biaya yang ada. Penerima manfaat juga bertanya kenapa hanya segini yang didapatkan,” ungkapnya.
Pihak SPPG juga mengaku telah dan kesepakan untuk melakukan survei pasar di wilayah masing-masing guna mencari alternatif suplayer. Selain itu, pihaknya sudah mengikuti rapat koordinasi dengan Satgas Pangan Lombok Timur juga pernah dilakukan untuk membahas kebutuhan bahan pangan dapur MBG.
“Kami pernah mengikuti rapat koordinasi dengan Satgas Pangan terkait kebutuhan bahan pangan MBG,” katanya.
Untuk menu basah, pihak SPPG menilai ketersediaan bahan pangan masih relatif aman dan stabil. Namun, kesulitan paling besar saat ini terjadi pada penyediaan bahan baku untuk menu kering, khususnya susu kemasan.
“Alhamdulillah bahan menu basah masih stabil. Tapi untuk membangun menu kering, khususnya susu kotak, memang cukup susah saat ini,” pungkasnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak dinas terkait belum memberikan pernyataan resmi terkait kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku menu kering program MBG di Lombok Timur.(GL)








