GledekNews-Lotim. Kesuksesan H. Najamudin Mustafa membangun gurita ekonomi dari sektor pertanian patut kita berikan apresiasi, karena dibalik kesuksesannya membangun gurita bisnis yang pada saat ini dijalaninya tidak didasari atas motivasi untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, namun hal itu diwujudkan karena hati nuraninya menjerit melihat fakta hidup dan kehidupan masyarakat yang semakin terperosok dan sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai akibat dari mewabahnya pandemi Covid-19.
Berawal dari sikap empati atas nasif hidup dan kehidupan masyarakat yang dinilai kurang berdaya pada sektor ekonomi itulah kemudian H. Najamudin Mustafa menguatkan tekadnya untuk berkiprah membangun perekonomian masyarakat melalui perusahaan miliknya yang diberi nama “An Najam Agro” yang pada saat ini bergerak pada usaha penanaman dan pembelian tembakau virginia, pembelian bawang putih dan pembuatan bibit bawang putih yang diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk mengurangi angka kemiskinan dengan adanya tenaga kerja yang dilibatkan dalam menjalankan bisnisnya tersebut.
Usaha pembelian tembakau virginia yang dilakukan oleh H. Najamudin Mustafa melalui bendera “An Najam Agro” karena didasari atas tekad dan niatan untuk menyelamatkan kaum petani tembakau yang sampai saat ini masih terjerat dalam “lingkaran setan kemiskinan” akibat tidak mempunyai posisi tawar untuk menentukan harga jual atas hasil produksi tembakaunya. Permainan kualitas daun tembakau dengan dalil grad yang dilakukan oleh grader selaku kepercayaan dari perusahaan-perusahaan besar yang dikenal dengan kaum kapitalis justru dinilai seringkali menjerat petani tembakau tetap dalam “lingkaran setan kemiskinan” karena kualitas sumber daya manusia dari petani tembakau yang tidak memahami sistim grad, sehingga kualitas tembakau petani menjadi ajang permainan grad yang bermuara pada rendahnya harga jual tembakau petani.
Kehadiran “An Najam Agro” dalam usaha pembelian tembakau virginia untuk meminimalisir kerugian para petani tembakau yang selama ini dialami, karena “An Najam Agro” menugaskan grader yang benar-benar jujur dan
profesional serta memeiliki sertifikasi supaya petani tidak dikibulin dalam penetuan kualitas dan harga tembakaunya.
Selain membeli tembakau dari petani, H. Najamudin Mustafa melalui “An Najam Agro” miliknya juga bergerak pada usaha pembelian dan penjualan bibit bawah putih Sembalun. Awalnya menurut H. Najamudin Mustafa tidak tertarik untuk bergerak dalam bidang usaha jual beli bawang putih, namun hati kecilnya kembali tergerak ketika dia datang ke Sembalun melihat dan mendengar rintihan langsung dari para petani bawang putih yang katanya bawang putih mereka tidak ada yang beli, sehingga dengan alasan itulah kemudian nurani H. Najamudin Mustafa tergerak untuk mengakomodir rintihan para petani bawang putih Sembalun dengan cara membeli bawang putih petani yang jumlahnya mencapai 400 ton dengan harga 1 M lebih.
Untuk menampung bawang putih sebanyak 400 ton tersebut, maka kemudian H. Najamudin Mustafa membuat gudang sepanjang ± 170 x 20 M untuk dijadikan sebagai bibit dan untuk saat ini menurut H. Najamudin Mustafa, bahwa bibit bawang putih miliknya tersebut sudah banyak yang berminat untuk membelinya dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, namun masih terkendala belum terbitnya sertifikasi dan label, karena hal itulah yang dipersyaratkan oleh pembeli tersebut, kata H. Najamudin.
Karena keberhasilan H. Najamudin Mustafa dalam membangun kerajaan ekonomi melalui usaha tembakau dan bawang putih tersebut, maka membuat Gubernur NTB H. Zulkieflimansyah bertandang ke markas besar “An Najam Agro” untuk melihat secara langsung kiprah H. Najamudin Mustafa dalam membangun gurita ekonominya dan pada kesempatan tersebut Gubernur NTB menyampaikan keheranan dan kekagumannya sambil mengatakan “kita butuh sosok seperti bang Najam yang mampu berbuat seperti ini, ini luar biasa” ungkap Gubernur NTB.
Disela-sela perjalanannya keliling melihat sambil takjub melihat Bawang Putih yang begitu banyak Gubernur NTB mengatakan “kalau ada masyarakat lokal yang berjuang seperti bang Najam, kenapa harus kita persulit dan harus kita berikan kemudahan” yang kemudian disambut oleh H. Najamudin Mustafa “iya Pak Gub tapi Kadis Pertanian Provinsi Saudara Husnul masih mempersulit kita untuk mendapatkan sertifikasi dan label, karena calon pembeli yang dari Kalimantan dan Sulawesi mensyaratkan harus ada label” yang kemudian disambut kembali oleh Gubernur NTB dengan ungkapan “kita akan permudah dan tidak boleh dipersulit, nanti saya panggil Husnul” Tegas Gubernur.
Setelah selesai berdiskusi, kemudian Gubernur NTB bergegas untuk berpamitan untuk undur diri, karena ada kegiatan lain, namun masih sempat photo bareng bersama para petani tembakau dan karyawan “An Najam Agro” sambil mengatakan “Bang Najam adalah Very is the best”. (Red).








