Gledeknews, Lombok Timur – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kembang Sari 1 Selong ke SD IT Darul Fikri menjadi sorotan publik setelah sebuah video berdurasi 43 detik beredar di media sosial Facebook. Video yang diunggah akun Makhaya Bread itu memperlihatkan susu kedelai yang tampak mengental dan tidak lagi cair seperti layaknya susu pada umumnya.
Dalam rekaman tersebut, seorang dari orang tua penerima manfaat mempertanyakan kelayakan susu tersebut untuk dikonsumsi anak-anak. “Ini apa selam atau susu ya? Kok susu kayak gini, masih layak diminum enggak?” ujar perekam video dengan nada heran. Ia juga mempertanyakan apakah minuman itu benar berasal dari program MBG.
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala SPPG Kembang Sari 1 Selong, Aprian Ihza Mahendra, membenarkan bahwa susu kedelai dalam video tersebut merupakan menu MBG yang didistribusikan pihaknya. Menurut dia, produk tersebut berasal dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dan tidak menggunakan bahan pengawet.
“Produk susu kedelai itu memang tidak memakai pengawet. Karena itu, kami sudah mengingatkan pihak sekolah agar susu segera dikonsumsi,” kata Aprian saat dikonfirmasi, Kamis Malam (15/1).
Ia menjelaskan, perubahan tekstur susu diduga terjadi karena minuman tersebut tidak langsung dikonsumsi di sekolah dan justru dibawa pulang ke rumah. Kondisi itu, menurut dia, menyebabkan kualitas susu menurun.
“Kami sudah berpesan kepada guru selaku PIC sekolah agar susu dikonsumsi segera. Dari video yang beredar, terlihat susu itu dibawa ke rumah, sehingga menyebabkan kondisinya berubah,” ujarnya.
Atas kejadian tersebut, Aprian sampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia menegaskan peristiwa itu akan menjadi bahan evaluasi bagi SPPG Kembang Sari 1 Selong dalam pelaksanaan program MBG ke depan.
“Saya meminta maaf atas kericuhan ini. Kami akan terus berbenah agar pelayanan ke depan bisa lebih baik,” katanya.
Aprian juga menyebut insiden ini terjadi akibat adanya miskomunikasi antara pihak SPPG dan sekolah. Namun, ia memastikan persoalan tersebut telah dikoordinasikan dan diselesaikan bersama pihak sekolah.
“Sudah kami komunikasikan. Ini murni miskomunikasi. Kejadian tersebut juga kebetulan terjadi pada distribusi untuk B3 dan siswa, dan susunya ditemukan di TK,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Namun, peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya standar distribusi, penyimpanan, dan komunikasi yang jelas dalam pelaksanaannya di lapangan.(GL)








