Gledeknews, Lombok Timur – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan gizi anak justru menyisakan ironi di pelosok Lombok Timur (Lotim). Lebih dari setahun berjalan, puluhan siswa di SDN 4 Selaparang dan SMP Negeri Satu Atap, Kecamatan Suela, belum pernah sekalipun menikmati program tersebut.
Di tengah klaim pemerataan, fakta di lapangan berbicara lain. Sekolah yang berada di wilayah terpencil itu seolah luput dari jangkauan, meski dapur penyedia MBG telah berdiri di kecamatan yang sama.
Menanggapi itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lotim, Lalu Bayan, tak banyak berkomentar saat dikonfirmasi. “Sedang kami bahas ini,” ujarnya singkat, Senin (4/5).
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Lotim, Ahyan, mengakui persoalan tersebut telah menjadi perhatian serius. Bahkan, isu ketimpangan distribusi MBG itu telah dibahas dalam rapat kerja bersama DPRD dan sejumlah OPD terkait.
“Baru saja kami rapat di DPRD terkait program MBG. Kami tekankan percepatan pelayanan bagi Keluarga Penerima Manfaat yang belum tersentuh,” tegasnya.
Ahyan menilai lambannya distribusi di wilayah terpencil menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Ia mendorong langkah konkret, yakni percepatan pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah kategori 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
“Wilayah 3T harus segera punya SPPG sendiri agar tidak terus tertinggal,” ujarnya.
Sebagai solusi sementara, Satgas MBG mengaku masih berupaya menjembatani kebutuhan sekolah-sekolah tersebut dengan dapur SPPG terdekat, meski terkendala jarak dan akses yang sulit.
“Kami masih koordinasikan agar bisa bergabung dengan sasaran di SPPG terdekat, jika memungkinkan,” pungkasnya.(GL)








