Gledeknews – Salah satu tokoh muda Lombok Tengah, Muhammad Samsul Qomar, dengan tegas meminta Satuan Tugas (Satgas) MBG dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk menelusuri serta menindak tegas oknum yang diduga melakukan praktik “titip jatah omprengan” di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pernyataan tersebut disampaikan Samsul melalui video berdurasi 2 menit 9 detik yang diunggah di akun fanpage Facebook resminya, Selasa (25/2). Dalam unggahannya, ia menekankan pentingnya keberanian pihak SPPG untuk bersuara apabila menemukan praktik titip-menitip oleh oknum tertentu.“Harus berani speak up SPPG ini kalau ada oknum yang titip-titip,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Menurut Samsul, dalam dua hari terakhir media sosial ramai dipenuhi keluhan dan sindiran dari para penerima manfaat MBG. Mulai dari takaran menu, kualitas makanan kering yang diberikan untuk beberapa hari, hingga komposisi roti, kurma, dan buah yang dinilai tidak sepadan.
“Dua hari ini kita menyaksikan di medsos pembahasan soal makan bergizi gratis. Dari takaran, ada yang isinya untuk tiga hari makanan kering, ada yang protes rotinya, kurmanya, buahnya, dan lain-lain,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti fenomena penerima manfaat (PM) yang mulai menghitung-hitung nilai anggaran per omprengan. Diketahui, anggaran dari pemerintah untuk satu PM dalam satu omprengan MBG sebesar Rp10.000. Namun, setelah menu diterima, banyak yang mempertanyakan kecukupan nilai tersebut dengan isi makanan yang diterima.
“Penerima manfaat sampai bertanya di medsos, harga roti berapa, susu berapa,” katanya.
Samsul menilai, jika nilai menu yang diterima tidak sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan, maka patut diduga adanya praktik pengurangan untuk setoran kepada oknum tertentu. Ia menyebut, informasi yang beredar selama ini menyebutkan adanya titipan berkisar antara Rp200 hingga Rp1.000 per omprengan.
“Kalau nilai bisa kurang, tentu ada indikasi bahwa SPPG tersebut menyisihkan setoran ke oknum. Ini yang perlu diusut oleh Satgas dan APH. Diusut saja siapa-siapa oknum yang menitipkan di omprengan itu,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa praktik titipan tersebut berdampak langsung pada kualitas dan kuantitas menu MBG yang diterima PM. Ia pun meminta pihak SPPG agar tidak takut untuk membuka praktik tersebut ke publik apabila benar terjadi.
“Kalau memang benar terbukti, ungkap ke publik. SPPG jangan takut speak up. Kalau ada dari atas atau dari mana yang nitip-nitip di sana, ngomong saja. Kami dukung,” pungkasnya.(GL)








