Gledeknews, Lombok Timur – Dugaan temuan ulat pada menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Lenek, Lombok Timur, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Menu yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) “Sari Rasa Catering” itu dilaporkan diterima oleh ibu menyusui pada Sabtu (25/4).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ulat diduga ditemukan dalam menu sayur yang disajikan kepada penerima manfaat. Kondisi tersebut langsung memicu kekecewaan para ibu menyusui yang menerima paket makanan tersebut.
Sejumlah penerima manfaat mengaku kehilangan selera makan setelah mengetahui kondisi makanan yang dinilai tidak layak konsumsi. Bahkan, sebagian dari mereka meluapkan kekecewaan dengan mempertanyakan kualitas pengelolaan program yang seharusnya bertujuan meningkatkan gizi masyarakat.
“Seharusnya ini makanan bergizi, bukan justru membuat kami khawatir. Kami berharap ada perbaikan serius,” ungkap salah satu penerima manfaat, Senin (26/4).
Keluhan tidak hanya berhenti pada kualitas makanan. Warga juga menyoroti dugaan pengelolaan limbah dapur yang disebut-sebut dibuang ke saluran irigasi. Hal ini memunculkan kekhawatiran terkait standar sanitasi dan keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang seharusnya menjadi bagian wajib dalam operasional dapur MBG.
Semnatara itu, hingga berita ini diturunkan, Kepala SPPG Sari Rasa Catering, saat dikonfirmasi tidak ada respon dan tanggapan meskipun dihubungi melalui via telepon terkait mengenai dugaan tersebut.
Tidak hanya penerima manfaat, sorotan datang juga dari Forum Komunikasi dan Kajian Masyarakat (FKKM) NTB, dinilainya kejadian tersebut sebagai indikasi lemahnya pengawasan dalam pelaksanaan program.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Program yang menyasar kelompok rentan seperti ibu menyusui harus dijalankan dengan standar kualitas dan pengawasan yang ketat,” tegas Sekretaris FKKM NTB, Budi Sutono.
Karena itu, ia mendesak agar pihak terkait, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN), segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur MBG di wilayah tersebut.
“Kasus ini sekaligus pengingat pentingnya menjaga kualitas, higienitas, serta pengawasan dalam pelaksanaan program pangan, terutama yang menyasar kelompok rentan di masyarakat,” tegasnya.(GL)





