Gledeknews, Lombok Timur – Bupati Lombok Timur (Lotim) H. Haerul Warisin menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memerintahkan kelompok pihak tertentu untuk turun ke lapangan saat aksi demonstrasi mahasiswa di depan Kantor Bupati Lombok Timur (Lotim).
Secara umum aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa berlangsung tertib dan damai. Bahkan Bupati menyampaikan apresiasi atas cara mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan sopan dan bertanggung jawab.
“Pada dasarnya aksi tadi berjalan tertib dan damai sesuai dengan ketentuan penyampaian pendapat di muka umum,” tegasnya Bupati, H. Haerul Warisan, saat dikonfirmasi, Selasa (20/1). Menyusul beredarnya informasi yang menyebut adanya keterlibatan kelompok tertentu dalam kericuhan yang sempat terjadi di sela-sela aksi unjuk rasa mahasiswa.
Bupati memastikan bahwa seluruh tuntutan yang disampaikan mahasiswa akan ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Bupati berharap, ke depan aspirasi dapat terus disampaikan dengan cara-cara yang santun dan konstruktif.
“Terkait tuntutan adik-adik mahasiswa, pastinya akan saya tindak lanjuti. Intinya saya berharap aspirasi disampaikan dengan baik, sopan, dan santun,” ujarnya.
Terkait isu adanya pengerahan preman, Haerul Warisin dengan tegas membantah kabar tersebut. Ia menegaskan tidak pernah memberikan perintah kepada siapa pun untuk melakukan tindakan yang dapat memicu kericuhan.
“Saya tegaskan, tidak pernah ada perintah dari saya untuk menurunkan preman atau kelompok apa pun. Aksi mahasiswa tadi berjalan dengan baik, damai, dan itu patut diapresiasi,” katanya.
Ia menjelaskan, kericuhan yang sempat terjadi bukan merupakan kehendak pemerintah daerah (Pemkab) dan diduga dipicu oleh oknum-oknum di luar massa aksi. Pemda Lotim, lanjutnya, tetap berkomitmen menjaga ruang demokrasi dan menjamin kebebasan masyarakat, khususnya mahasiswa, dalam menyampaikan pendapat.
Karena itu, Bupati juga mengimbau seluruh pihak agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi serta menyerahkan sepenuhnya penanganan insiden tersebut kepada aparat keamanan.
“Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang. Pemda terbuka untuk dialog dan komunikasi yang konstruktif dengan mahasiswa,” ujarnya.(GL)








