Gledeknews, Lombok Timur – Perayaan Idul Adha tak hanya menjadi momentum ibadah kurban bagi umat Islam, tetapi juga ruang pelestarian tradisi lokal yang sarat makna. Seperti yang dilakukan warga Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur, yang memperlakukan hewan kurban dengan penuh penghormatan sebelum disembelih.
Dalam ajaran Islam, ibadah kurban merujuk pada kisah keteladanan Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102-107. Nilai keikhlasan dan pengorbanan itulah yang kemudian diwujudkan masyarakat dalam bentuk tradisi yang terus diwariskan turun-temurun.
Di Desa Ketangga, prosesi kurban diawali dengan persiapan khusus. Para pekurban menyiapkan berbagai perlengkapan untuk hewan kurban, mulai dari pakaian, makanan, hingga perlengkapan adat seperti sesaji berisi daun sirih, buah pinang, tembakau, dan uang.
Setelah itu, hewan kurban diserahkan kepada tokoh agama sebagai simbol penyerahan niat secara tulus dan ikhlas.
“Ini bentuk keikhlasan hati. Penyerahan dilakukan secara langsung sambil bersalaman dan diucapkan secara lisan kepada tokoh agama,” ujar tokoh agama setempat, Awaluddin, Rabu (27/5).
Prosesi berlanjut dengan perlakuan khusus terhadap hewan kurban. Hewan diberi makan, rambutnya disisir, lalu ditaburi parutan kelapa yang dicampur kunyit. Tak hanya itu, wajah hewan juga dihiasi menggunakan kaca sebagai simbol penghormatan terakhir sebelum disembelih.
“Ini bentuk penghormatan kita terhadap hewan sebelum disembelih,” jelasnya.
Ia menambahkan, perlengkapan seperti kain, baju, payung, hingga sandal yang dikenakan hewan memiliki makna filosofis sebagai “bekal” di alam barzah. Hewan kurban diibaratkan sebagai kendaraan yang akan mengantarkan pemiliknya di kehidupan setelah mati.
“Hewan ini makhluk hidup yang harus kita hormati. Setelah dikurbankan, ia menjadi tunggangan kita di alam yang berbeda,” tambahnya.
Senada dengan itu, tokoh adat perempuan setempat, Intum, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus dijaga hingga kini.
“Tradisi ini sudah turun-temurun dari nenek moyang. Mungkin di tempat lain sudah mulai ditinggalkan, tapi kami tetap mempertahankannya sebagai bentuk penghormatan terhadap makhluk hidup,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian tradisi ini menjadi tanggung jawab bersama agar nilai-nilai adat dan keagamaan tetap hidup di tengah masyarakat.
“Kita harus jaga dan teruskan ke generasi berikutnya agar tidak hilang,” pungkasnya.(*)








