Gledeknews, Lombok Timur – Penanganan kasus dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur (Lotim), terus berkembang. Di tengah bertambahnya jumlah korban, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jurit Baru hingga kini belum memberikan keterangan resmi
Upaya konfirmasi yang dilakukan media ini melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp belum mendapatkan respons dari pihak SPPG terkait distribusi menu MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan puluhan siswa tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Satgas MBG Lotim pada Jumat malam (24/4), jumlah siswa yang mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Pengadangan mencapai 35 orang. Dari jumlah tersebut, 28 siswa telah dipulangkan, sementara tujuh lainnya masih menjalani perawatan.
Namun, data terbaru pada Sabtu (25/4) menunjukkan adanya penambahan jumlah korban. Ketua Satgas MBG Lotim, H. Ahyani, menyebut total siswa terdampak kini mencapai sekitar 38 orang.
“Ada lagi penambahan dua orang yang dibawa ke puskesmas. Dari tujuh yang dirawat itu, lima orang sudah dipulangkan dan tersisa dua orang yang masih menjalani perawatan,” jelasnya.
Dengan demikian, sebagian besar siswa yang sebelumnya dirawat telah berangsur membaik dan diperbolehkan pulang, sementara dua siswa masih dalam pengawasan tim medis di Puskesmas Pengadangan.
Kasus ini menjadi perhatian serius mengingat korban terus bertambah dalam waktu singkat. Hingga kini, siswa yang terdampak dilaporkan masih berdatangan untuk mendapatkan penanganan.
Di sisi lain, belum adanya penjelasan dari pihak SPPG sebagai penyedia makanan memunculkan pertanyaan publik terkait standar pengolahan dan distribusi makanan dalam program MBG. Transparansi dan akuntabilitas dinilai penting guna memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Pihak Satgas MBG bersama instansi terkait sebelumnya telah mengambil langkah dengan mengirimkan sampel makanan ke laboratorium untuk diuji. Hasil uji tersebut diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti insiden, sekaligus menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di daerah.
Sementara itu, sejumlah orang tua siswa dan masyarakat berharap ada kejelasan dan tanggung jawab dari pihak terkait, seiring upaya pemerintah dalam memastikan keselamatan dan kesehatan para penerima manfaat program tersebut.
“Kita minta kepala SPPG segera berikan klarifikasi terkait ini,” kata singkat sejumlah orang siswa.(GL)








