Gledeknews Lombok Timur – Sejumlah orang tua penerima manfaat (PM) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Wakan, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur (Lotim), keluhkan kualitas menu sajian yang dinilai tidak layak konsumsi. Keluhan tersebut kembali menyorot pelaksanaan Program MBG yang merupakan salah satu program prioritas nasional.
Keluhan para penerima manfaat mencuat ke ruang publik melalui media sosial dan disebut telah terjadi berulang kali, dengan kejadian terbaru pada Senin (9/2). Akun Facebook @samiah asmiati dan akun lain bernama Ismiati mengunggah kondisi menu MBG yang diterima, disertai kekecewaan karena komplain yang selama ini disampaikan dinilai tidak mendapat tindak lanjut.
Bahkan, dalam unggahannya disebutkan adanya perlakuan tidak menyenangkan dari oknum karyawan dapur saat keluhan disampaikan. “Sudah sering kami komplain dan sudah banyak yang memviralkan, tapi justru kami dimarahi,” tulis diakun tersebut.
Sebelumnya, keluhan serupa disampaikan akun Facebook dan Instagram @Ar-Rusydiny NW Segaet melalui beberapa unggahan pada 13 Januari dan 21 Januari 2026. Meski mengapresiasi Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto sebagai program yang mulia, akun tersebut menilai kualitas menu dari dapur mitra tidak sejalan dengan tujuan utama MBG. “Sangatlah miris melihat sisi penyuplai MBG ini, dari hari ke hari semakin pahit rasa jeruk ini,” tulisnya disertai emoji menangis.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Lombok Timur Jerowaru 2 Yayasan Dirga Anak Berkah, Ardi Wiranta, menegaskan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan dan saat ini tidak ada lagi masalah di lapangan.
Ia mengaku pihaknya tidak mengetahui adanya menu bermasalah karena tidak menerima konfirmasi langsung dari pihak sekolah atau penerima manfaat. “Kami justru tahu dari media sosial. Tidak ada konfirmasi ke kami sebelumnya, sehingga kami sedikit kebingungan untuk menindaklanjuti,” ujarnya.
Ardi tegaskan, jika laporan disampaikan langsung, pihaknya akan segera mengambil tindakan. Ia juga menyebutkan bahwa permasalahan yang terjadi hanya pada satu omprengan dan hanya pada buah yang disajikan.
“Kalau ada informasi masuk ke kami, pasti langsung kami tindak lanjuti. Ini tidak ada konfirmasi, jadi kami tidak tahu,” tegasnya.
Senada, Asisten Lapangan (Aslap) SPPG, Aziz, menyatakan bahwa permasalahan hanya terjadi pada menu buah. Ia tegaskan pihaknya telah bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan memastikan seluruh menu dalam kondisi segar sebelum didistribusikan.
Meski demikian, ia mengakui pihaknya terus melakukan evaluasi berdasarkan masukan dari lapangan, termasuk memperbaiki menu yang sebelumnya dinilai kurang layak.
“Kami mulai memasak pukul 12.00 siang dan distribusi dilakukan sekitar pukul 14.00 hingga 15.00. Jika terjadi menu basi atau tidak layak konsumsi, kemungkinan ada kendala di proses tertentu, baik dari dapur maupun distribusi di lapangan,” jelasnya.
Pihak SPPG berharap ke depan setiap temuan di lapangan dapat dikonfirmasi terlebih dahulu agar dapat segera ditangani. Meski tidak menyalahkan unggahan di media sosial, mereka menegaskan siap bertanggung jawab penuh jika ditemukan menu yang tidak layak konsumsi.
“Kalau ada buah rusak atau bahan menu lain yang tidak layak, kami siap bertanggung jawab sepenuhnya,” tandasnya.(GL)








