Gledeknews, Lombok Timur – Tragedi meninggalnya seorang pendaki akibat dugaan hipotermia di Bukit Savana, kawasan Sembalun, Lombok Timur, menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari penggiat wisata NTB, Erwin Hidayat, yang menilai lemahnya sistem pengawasan dan prosedur kesehatan menjadi faktor krusial yang harus segera dibenahi.
Insiden tersebut seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pihak terkait, khususnya pengelola kawasan wisata pendakian. Ia menyoroti pentingnya penerapan medical check up yang tidak sekadar formalitas administratif, melainkan dilakukan secara profesional oleh tenaga medis.
“Medical check up harus dilakukan secara serius, ditangani langsung oleh dokter, serta seluruh hasil pemeriksaan dicatat secara riil dan bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya, Senin (6/7).
Menurutnya, selama ini praktik pemeriksaan kesehatan bagi pendaki kerap hanya menjadi syarat di atas kertas tanpa implementasi yang jelas di lapangan. Hal ini dinilai berbahaya, mengingat kondisi fisik pendaki menjadi faktor utama keselamatan selama aktivitas pendakian.
Lebih jauh, ia juga menyoroti sikap sejumlah pihak yang dinilai saling lempar tanggung jawab ketika terjadi insiden. Ia menyebutkan bahwa pengelola kawasan, baik dari TNGR maupun KPH Rinjani Timur, harus memiliki regulasi yang tegas dan mengikat.
“Jangan sampai saat menerima kunjungan semuanya berjalan lancar, tapi ketika terjadi musibah justru saling lempar tanggung jawab atas nama pengelola,” ujarnya.
Regulasi yang jelas sangat diperlukan, terutama di tengah meningkatnya tren pendakian bukit yang viral di media sosial seperti TikTok. Lonjakan pengunjung tanpa diimbangi pengawasan ketat berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan guide atau pemandu wisata harus didukung dengan data kesehatan pendaki yang valid. Dengan demikian, pemandu dapat mengambil langkah cepat dan tepat jika terjadi kondisi darurat di lapangan.
“Ketika terjadi sesuatu terkait kondisi kesehatan tamu, maka yang bertanggung jawab adalah pihak yang menandatangani surat keterangan kesehatan tersebut,” tambahnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa kawasan wisata Sembalun yang kini dikenal hingga mancanegara tidak boleh tercoreng hanya karena kelalaian dalam hal-hal mendasar.
“Pariwisata Sembalun sedang berbenah dan berkembang pesat. Jangan sampai hal kecil yang diabaikan justru berdampak besar terhadap citra destinasi yang sudah mendunia,” tandasnya.
Sementara perwakilan KPH Rinjani Timur, Astetika Ardi, mengatakan pihaknya sangat mendukung pariwisata. Akan tetapi ada batasan dan kewenangan sesuai regulasi.
“Kita mendukung pariwisata di sembalun, Namun TNGR dalam pengelolaan ada batas kawasan. Kita punya aturan dan SOP pendakian,” jelasnya.
Ditegaskan bukit Savana Dendaun dikelola olah masyarakat melalui kelompok yang sidak dibentuk di wilayah kawasan tersebut.
“Pengelolaan bukit Savana Dendaun di kelola oleh dua kelompok masyarakat yang berada di desa sembalun lawang, area destinasi wisata dendaun berada diarea enclave (tanah milik),” tegasnya.(GL)





