Gledeknews, Lombok Timur – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Lombok Timur, H. Ahyani, mengatakan kondisi siswa dan ibu hamil di wilayah Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela, yang sempat dirawat akibat dugaan keracunan makanan, kini telah membaik.
“Kondisinya anak-anak dan ibu hamil yang dirawat sudah baik dan cukup stabil. Tadi siang semuanya sudah pulang dari puskesmas,” ujarnya, Minggu (26/4).
Ia menegaskan, peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, mulai dari proses penerimaan bahan baku, penyortiran, hingga penyajian makanan kepada penerima manfaat.
Selain itu, koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pihak puskesmas juga terus diperkuat guna memastikan respons cepat apabila muncul gejala serupa di masyarakat.
Meski kondisi telah terkendali, Satgas MBG tetap mengimbau pihak sekolah dan masyarakat untuk segera melaporkan jika ditemukan keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
“Kalau ada gejala, segera dilaporkan ke puskesmas supaya cepat ditangani,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ahyani mengungkapkan bahwa sebelumnya terdapat 114 dapur MBG yang sempat disuspensi. Namun, sebagian besar kini telah kembali beroperasi setelah melalui proses evaluasi.
“Dari 114 yang disuspensi, sebagian besar sudah beroperasi kembali. Bahkan tadi malam ada satu lagi yang kembali dibuka,” jelasnya.
Ke depan, Satgas MBG akan memfokuskan pada peningkatan kualitas program secara menyeluruh. Tidak hanya dari sisi kandungan gizi, tetapi juga mencakup standar operasional dapur, pengelolaan limbah atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga kelayakan bangunan dapur.
Menurutnya, tahap awal program yang berorientasi pada percepatan pelaksanaan telah dilalui, sehingga kini saatnya beralih pada penguatan kualitas dan standar.
“Sekarang fokus kita peningkatan kualitas, mulai dari kualitas makanan, IPAL, sampai bangunan dapur supaya standar itu benar-benar terpenuhi,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran laporan masyarakat sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan yang akan ditindaklanjuti oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kalau belum memenuhi standar, siap-siap untuk disuspensi lagi. Ini bagian dari upaya kita menjaga kualitas dan keamanan program MBG,” tandasnya.(GL)








