Gledeknews, Lombok Timur – Keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG Elmina Tanjung di Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), menuai sorotan dari masyarakat Setempat.
Pasalnya warga setempat pertanyakan kejelasan lokasi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dari dapur MBG yang dibangun di kawasan Lapangan Umum Tanjung Teros.
Sebelumnya, pembangunan garasi dapur MBG di lokasi tersebut telah memicu polemik, terutama terkait aspek perizinan pemanfaatan aset milik pemerintah daerah. Kini, kekhawatiran warga bertambah seiring belum adanya informasi jelas mengenai keberadaan IPAL.
Sejumlah warga setempat mengaku resah karena lokasi dapur MBG berada tidak jauh dari sumber air bersih yang selama ini digunakan untuk kebutuhan masjid dan masyarakat sekitar.
“Di mana kira-kira lokasi IPAL-nya? Sementara di sana ada kolam bersih dan satu-satunya sumber air yang dialirkan ke masjid,” ujar sejumlah warga setempat yang enggan disebutkan namanya, Kamis (23/4).
Meski demikian, warga belum dapat memastikan apakah sumber air tersebut telah terdampak atau tercemar limbah dari dapur MBG. Hal itu lantaran mereka tidak mengetahui secara pasti di mana titik IPAL ditempatkan.
“Yang kami pertanyakan, IPAL ini ditaruh di mana. Apakah ditanam atau seperti apa, kami tidak tahu,” tambahnya.
Warga juga menyoroti tidak ada koordinasi dari pihak pihak dapur MBG dengan masyarakat maupun komite lapangan terkait pembangunan fasilitas tersebut. Mereka menilai, sebagai lokasi umum, seharusnya tidak ada pembangunan permanen untuk kepentingan usaha tanpa komunikasi yang jelas.
“Kami minta jangan ada bangunan permanen untuk usaha pribadi di lapangan umum. Ini fasilitas bersama,” tegas warga lainnya.
Keresahan masyarakat semakin meningkat karena sumber air tersebut digunakan untuk aktivitas ibadah, seperti wudhu dan mandi di Masjid Assyifa Tanjung. Mereka khawatir jika IPAL tidak dikelola dengan baik, maka berpotensi mencemari air yang digunakan jamaah.
“Masyarakat mulai resah. Air ini dipakai untuk wudhu dan mandi di masjid. Jadi kami perlu tahu di mana IPAL-nya,” ungkapnya.
Warga pun meminta pihak pemilik dapur MBG untuk terbuka dan memberikan penjelasan terkait lokasi serta sistem pengelolaan limbah yang digunakan. “Jika terbukti mencemari sumber air, mereka mengancam akan melaporkan persoalan tersebut ke pihak berwenang, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN),” tegasnya.
Hingga saat ini, masyarakat mengaku belum pernah mendapatkan penjelasan maupun sosialisasi terkait pembangunan dapur MBG tersebut, termasuk terkait keberadaan IPAL yang menjadi perhatian utama warga.(GL)








