Gledeknews, Lombok Timur – Sorang akademisi (dosen-red) kecewa kepada oknum dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soedjono Selong. Alih-alih dapatkan pelayanan yang memuaskan, akan tapi justru oknum dokter itu keluarkan suara keras dan itu melanggar etik sebagai seorang doktor.
Bagimana tidak pasian yang seharusnya dapatkan pelayanan yang nyaman dan baik saat melakukan konsultasi kepada dokter. Akan tetapi justru anak dari akademi di Lombok Timur mendapatkan bentakan dan perlakuan tidak baik dari oknum dokter itu.
Kepada media ini, Dr. Muhamad Ali, M.Si akademisi di Universitas Hamzanwadi (orang tua pasien) menuturkan, sebagai bentuk keprihatinan dan tanggung jawab moral sebagai warga Lombok Timur, sekaligus sebagai orang tua yang baru saja mengalami dan melihat langsung wajah pelayanan publik yang sangat mengecewakan di RSUD R. Soedjono Selong.
“Pagi itu, saya mengantar anak saya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai syarat administrasi program magang luar negeri dari kampusnya. Kami mengikuti prosedur sebagaimana mestinya, mendaftar ke poli penyakit dalam,” ungkapnya.
Lebih jauh diungkap, setelah pemeriksaan awal, anaknya diminta melakukan tes laboratorium. Namun ketika mereka kembali membawa hasil laboratorium, yang menunjukkan bahwa anaknya reaktif Hepatitis B.
Atas hasil itu, ia mengkonfirmasi hasil tes sebelumnya yang dilakukan di mataram, maka sebagai orang tua tentu dirinya berkepentingan untuk mengetahui tindakan medis yang diperlukan dan untuk mengobati penyakit anaknya.
Kemudian secara baik-baik, sambungnya, bertanya langkah medis apa yang bisa lakukan untuk kesembuhan anaknya. Bukan untuk memprotes hasil, bukan untuk meminta hasil diubah, tapi semata ingin dapatkan penjelasan dan arahan medis.
Akan tetapi, alih-alih mendapat informasi yang menenangkan, dirinya dan anaknya justru disambut dengan sikap kasar dan nada ketus: “Tidak ada dan tidak bisa diobati.”
Tak itu saja, ketika dirinya mencoba menjelaskan maksud pertanyaan tersebut, oknum dokter justru menunjukkan sikap yang semakin tidak pantas, marah-marah, membentak. Bahkan berdiri seolah hendak menyerang secara fisik.
Atas perlakukan itu, ia bersama anaknya keluar dari ruangan, meskipun terdengar suara benda dibanting dari dalam ruangan itu dan meninggalkan rumah sakit dalam keadaan syok dan sangat terpukul.
Pengalaman ini menyisakan luka batin, bukan hanya karena perlakuan yang tidak manusiawi, tetapi juga karena ini terjadi di institusi publik yang seharusnya menjadi tempat kita merasa dilindungi.
“Ini tidak hanya sebagai bentuk sikap ketersinggungan saya secara pribadi, tetapi sebagai bentuk rasa tanggung jawab dan keprihatinan saya bahwa apa yang saya alami ini bisa menimpa siapa saja,” jelasnya.
Dengan perlakuan itu, ia berharap Bupati Lombok Timur dan Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong mengambil langkah serius dan sistemik untuk membenahi kondisi ini. Jangan biarkan warga kehilangan kepercayaan kepada institusi publik hanya karena ulah satu atau dua oknum yang kebal terhadap etika profesi.
“Menjadi dokter bukan hanya soal ilmu, tetapi tentang sikap dan kemanusiaan. Setiap pasien adalah manusia yang sedang berjuang, hormatilah itu,” tandasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong dr. HM. Hasbi Santoso, M.Kes. saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan penelusuran.”Ini sedang saya telusuri supaya lengkap datanya,” katanya singkat.(GL)








